twitter


Makalah Perkemihan II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
HIPOSPADIA
Oleh :
Kelompok 5 / S1-4B
1.      Amalia Devi Iswara                                101.0006
2.      Dimas Setyono N.                                    101.0024
3.      Dwi Agustina                                           101.0028
4.      Helmy Astrid A.                                      101.0048
5.      Ika Asri Uji L.                                         101.0050        
6.      Rilia Navisatul K.                                    101.0094
7.      Rio Hudi E.                                              101.0096
8.      Septia Nur Pratiwi                                  101.0102
9.      Yusuf Afandi                                           101.0118


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2013


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1         Latar Belakang
Kelainan konginetal pada penis menjadi suatu masalah yang sangat penting, karena selain berfungsi sebagai pengeluaran urine juga berfungsi sebagai alat seksual yang pada kemudian hari dapat berpengaruh terhadap fertilitas. Salah satu kelainan konginetal terbanyak kedua pada penis setelah cryptorchidism yaitu hipospadia. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2005 : 288). Istilah hipospadia berasal dari bahasa Yunani, yaitu Hypo (below) dan spaden (opening). Hipospadia menyebabkan terjadinya berbagai tingkatan defisiensi uretra. Jaringan fibrosis yang menyebabkan chordee menggantikan fascia Bucks dan tunika dartos. Kulit dan preputium pada bagian ventral menjadi tipis, tidak sempurna dan membentuk kerudung dorsal di atas glans (Duckett, 1986, Mc Aninch, 1992). Selain berpengaruh terhadap fungsi reproduksi yang paling utama adalah pengaruh terhadap psikologis dan sosial anak.
Penyebab dari hiposapadia ini sangat multifaktorial antara lain disebabkan oleh gangguan dan ketidakseimbangan hormone, genetika dan lingkungan. Ganguan keseimbangan hormon yang dimaksud adalah hormone androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Sedangkan dari faktor genetika, dapat terjadi karena gagalnya sintesis androgen sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi. Dan untuk faktor lingkunagn adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.
Di Amerika Serikat, hipospadia diperkirakan terjadi sekali dalam kehidupan dari  350 bayi laki-laki  yang dilahirkan. Angka kejadian ini sangat berbeda tergantung dari etnik dan geogafis.  Di Kolumbia 1 dari 225 kelahiran bayi laki-laki,  Belakangan ini di beberapa negara terjadi peningkatan angka kejadian hipospadia seperti di daerah Atlanta meningkat 3 sampai 5 kali lipat dari 1,1 per 1000 kelahiran pada tahun 1990 sampai tahun 1993.  Banyak penulis melaporkan angka kejadian hipospadia yang bervariasi berkisar antara 1 : 350 per kelahiran laki-laki. Bila ini kita asumsikan ke negara Indonesia karena Indonesia belum mempunyai data pasti berapa jumlah penderita hipospadia dan berapa angka kejadian hipospadia. Maka berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik tahun 2000 menurut kelompok umur dan jenis kelamin usia 0 – 4 tahun yaitu 10.295.701 anak yang menderita hipospadia sekitar 29 ribu  anak yang memerlukan penanganan repair hipospadia.
Penatalaksanaan hipospadia pada bayi dan anak dilakukan dengan prosedur pembedahan. Tujuan utama pembedahan ini adalah untuk merekontruksi penis menjadi lurus dengan meatus uretra di tempat yang normal atau dekat normal sehingga pancaran kencing arahnya ke depan. Umumnya di Indonesia banyak terjadi kasus hipospadia karena kurangnya pengetahuan para bidan saat menangani kelahiran karena seharusnya anak yang lahir itu laki-laki namun karena melihat lubang kencingnya di bawah maka di bilang anak itu perempuan. Oleh karena itu kita sebagai seorang tenaga medis harus memberikan informasi yang adekuat kepada para orang tua tentang penyakit ini. Para orang tua hendaknya menghindari faktor- faktor yang dapat menyebabkan yang dapat menyebabkan hipospadia dan mendeteksi secara dini kelainan pada anak mereka sehingga dapat dilakukan  penanganan yang tepat.

1.2         Rumusan Masalah
1.        Apa pengertian penyakit Hipospadia?
2.        Bagaimana etiologi penyakit Hipospadia?
3.        Bagaimana manifestasi klinis penyakit Hipospadia?
4.        Bagaimana klasifikasi penyakit Hipospadia?
5.        Bagaimana patofisiologi penyakit Hipospadia?
6.        Apa jasa komplikasi dari penyakit Hipospadia?
7.        Bagaimana pemeriksaan penunjang penyakit Hipospadia?
8.        Bagaimana penatalaksanaan penyakit Hipospadia?
9.        Bagaimana terapi penyakit Hipospadia?
10.    Bagaimana WOC dari penyakit Hipospadia?
11.    Bagimana askep penyakit Hipospadia?

1.3         Tujuan
1.      Menjelaskan pengertian penyakit Hipospadia
2.      Menjelaskan  etiologi penyakit Hipospadia
3.      Menjelaskan manifestasi klinis penyakit Hipospadia
4.      Menjelaskan klasifikasi penyakit Hipospadia
5.      Menjelaskan patofisiologi penyakit Hipospadia
6.      Menjelaskan komplikasi dari penyakit Hipospadia
7.      Menjelaskan pemeriksaan penunjang penyakit Hipospadia
8.      Menjelaskan  penatalaksanaan penyakit Hipospadia
9.      Menjelaskan terapi penyakit Hipospadia
10.  Menjelaskan WOC dari penyakit Hipospadia
11.  Menjelaskan askep penyakit Hipospadia

















BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1              Pengertian
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana uretra terbuka di permukaan bawah penis, skrotum atau peritonium. Hipospadia sendiri berasal dari dua kata yaitu “hypo” yang berarti “di bawah” dan “spadon“ yang berarti keratan yang panjang.
Hipospadia terjadi pada 1 dalam 300 kelahiran anak laki-laki dan merupakan anomali penis yang paling sering. Perkembangan uretra in utero dimulai dimulai sekitar usia 8 minggu dan selesai dalam 15 minggu. Uretra terbentuk dari penyatuan lipatan uretra sepanjang permukaan ventral penis. Glandula uretra terbentuk dari kanalisasi funikulus ektoderm yang tumbuh melalui glands untuk menyatu dengan lipatan uretra yang menyatu. Hipospadia terjadi bila penyatuan di garis tengah lipatan uretra tidak lengkap sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral penis. Ada berbagai derajat kelainan letak ini seperti pada glandular (letak meatus yang salah pada glands), korona (pada sulkus korona), penis (disepanjang batang penis), penoskrotal (pada pertemuan ventral penis dan skrotum), dan perineal (pada perineum). Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutupi sisa dorsal glands. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee, pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari penis.

2.2              Etiologi
Penyebab sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa faktor yang oleh para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain :

1.      Gangguan dan ketidakseimbangan hormon.
Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau bisa juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormon androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.

2.      Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi.
3.      Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.

2.3              Manifestasi klinis
1.      Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.
2.      Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis.
3.      Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
4.      Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
5.      Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
6.      Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
7.      Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
8.      Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
9.      Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.

2.4              Klasifikasi
1.      Tipe sederhana/Tipe anterior
Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe ini, meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi.

2.      Tipe penil/Tipe Middle
Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan penoscrotal. Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan bedah selanjutnya.

3.      Tipe Posterior
Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan skrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun.


2.5              Patofisologi
Hipospadia terjadi karena tidak lengkapnya perkembangan uretra dalam utero. Terjadi karena adanya hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan minggu ke 10 sampai minggu ke 14. Gangguan ini terjadi apabila uretra jatuh menyatu ke midline dan meatus terbuka pada permukaan ventral dari penis. Prepusium bagian ventral kecil dan tampak seperti kap atau menutup. Kelainan terjadi akibat kegagalan lipatan uretra untuk berfusi dengan sempurna pada masa pembentukan saluran uretral embrionik. Abnormalitas dapat menyebabkan infertilitas dan masalah psikologis apabila tidak diperbaiki (Muscari, 2005). Fungsi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan letak meatus ini, dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian disepanjang batang penis hingga akhirnya di perineum. Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai tapi yang menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari penis (Anak-hipospadia).

2.6              Komplikasi
Komplikasi dari hipospadia antara lain :
1.      Infertilitas
Dapat terjadi disfungsi ejakulasi pada pria dewasa. Apabila chordee nya parah, maka penetrasi selama hubungan intim tidak dapat dilakukan (Corwin, 2009).
2.      Resiko hernia inguinalis.
3.      Gangguan psikososial malu karena perubahan posisi BAK.

2.7              Pemeriksaan penunjang
Diagnosis dilakukan dengan dengan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir atau bayi. Karena kelainan lain dapat menyertai hipospadia, dianjurkan pemeriksaan yang menyeluruh, termasuk pemeriksaan kromosom (Corwin, 2009).

1.      Rontgen
2.      USG sistem kemih kelamin
3.      BNO – IVP karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan kongenital ginjal
4.      Kultur urine (Anak-hipospadia)

2.8              Penatalaksanaan
Dikenal banyak tehnik operai hipospadia, yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu :

1.      Operasi Pelepasan Chordee dan Tunneling
Dilakukan pada usia 1,5-2 tahun. Pada tahap ini dilakukan operasi eksisi chordee dari  muara uretra sampai ke glands penis. Setelah eksisi chordee maka penis akan menjadi lurus tetapi meatus uretra masih terletak abnormal. Untuk melihat keberhasilan eksisi dilakukan tes ereksi buatan intraoperatif dengan menyuntikkan NaCL 0,9% kedalam korpus kavernosum.

2.      Operasi Uretroplasty
Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari kulit penis bagian ventral yang di insisi secara longitudinal paralel di kedua sisi.
      


2.9    Terapi
1.      Koreksi Bedah
Koreksi bedah mungkin perlu dilakukan sebelum usia anak 1 atau 2 tahun. Sirkumsisi harus dihindari pada bayi baru lahir agar kulup dapat digunakan untuk perbaikan dimasa mendatang (Corwin, 2009).

2.      Persiapan Prabedah
Informasikan orang tua bahwa pengenalan lebih dini penting sehingga sirkumsisi dapat dihindari, kulit prepusium digunakan untuk bedah perbaikan (Muscari, 2005).

3.      Penatalaksanaan Pasca Bedah
a.       Anak harus dalam tirah baring
b.      Baik luka penis dan tempat luka donor harus dijaga tetap bersih dan kering
c.       Perawatan kateter
d.      Pemeriksaan urin untuk memeriksa kandungan bakteri
e.       Masukan cairan yang adekuat untuk mempertahankan aliran ginjal dan mengencerkan toksin
f.       Pengangkatan jahitan kulit setelah 5-7 hari












2.10  WOC
 























2.11  Asuhan Keperawatan
A.        Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada hari Rabu, 20 November 2013 pukul 08.00 WIB di Poli Urologi Rumkital Dr.Ramelan Surabaya.

1.      Identitas Klien
Nama                                         : An. T
Alamat                                       : Dinoyo
Tanggal lahir / Umur     : 22 Mei 2012 / 1,5 Tahun
Jenis kelamin                             : Laki - Laki
Agama                                       : Islam
No Register                               : 4611XX
Tanggal masuk                           : 19 November 2013
Dx. Medis                                  : Hipospadia

2.      Riwayat Sakit dan Kesehatan
a.       Keluhan Utama
BAK lancar tetapi tidak memancar.
b.       Riwayat Penyakit Sekarang
Pada tanggal 10 November 2013, An. T rencana akan disirkumsisi di dokter. Namun, baru diinsisi sedikit dokter tidak berani melanjutkan sirkumsisi. Lalu dari dokter dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Di RSUD Dr.Soetomo mengantri banyak pasien, karena dari dokter menyarankan agar tidak terlalu lama maka An. T dari RSUD Dr.Soetomo dibawa ke Rumkital Dr.Ramelan Surabaya pada tanggal 19 November 2013. Oleh dokter Poli Urologi Rumkital Dr.Ramelan dianjurkan untuk operasi. Operasi tanggal 21 November 2013 jam 10.00 WIB. Sekarang An. T dirawat di Ruang D1 Rumkital Dr.Ramelan Surabaya. An. T mengatakan cemas akan menjalani operasi, An. T terlihat gelisah.
c.      Riwayat Kehamilan dan Kelainan
1.  Prenatal
Ny. S sebagai  ibunya klien mengatakan selalu memeriksakan kehamilannya ke bidan, setiap 1 bulan sekali, dan sudah mendapat imunisasi TT dan tidak ada riwayat penyakit selama hamil.


2.  Intranatal
Ny. S mengatakan melahirkan secara normal dibantu oleh bidan dengan BBL : 3100 gr, PB : 50 cm.
3.  Postnatal
Ny. S mengatakan An. T diberi ASI eksklusif dan diberi makanan tambahan (MPASI) setelah ± 5 bulan usianya.
d.      Riwayat Penyakit Dahulu
1.     Penyakit waktu kecil         : Tidak ada
2.     Di rawat di RS                  : Belum pernah
3.     Obat yang digunakan        : Tidak ada
4.     Tindakan operasi               : Belum pernah
5.     Alergi                                : Udang
6.     Kecelakaan                        : Tidak ada
7.     Imunisasi                           : BCG, Polio, DPT, Hepatitis B
8.      Riwayat Kesehatan Keluarga
a)      Genogram                                                       

 










Keterangan   :
 


Laki-laki                  
Perempuan
Hubungan
Tinggal serumah
1,5 th
 
Pasien
Meninggal                 x
b)      Penyakit keturunan
 Ny. S mengatakan keluarga tidak ada yang menderita penyakit hipospadia, dan an. T tidak memiliki penyakit keturunan seperti asma, hipertensi, DM.
e.        Riwayat Sosial        
An. T dirawat oleh kedua orang tua dan nenek, dengan keadaan rumah bersih, dekat dengan keramaian (jalan raya), dilingkungan perumahan.

3.      Pola Sehari-hari
a.         Pola istirahat
An. T mengatakan sebelum dan selama sakit tidur ± 8 – 10 jam/hari.
b.        Personal hygiene
An. T mengatakan sebelum dan selama sakit mandi 2 x / hari.
c.         Pola eliminasi
An. T mengatakan sebelum dan selama sakit BAB 1 x/hari, BAK ± 5 x/hari (1500 cc). BAK lancar tetapi tidak memancar.
d.        Pola aktifitas latihan
Dalam kegiatan sehari-hari an. T dapat melakukan perawatan diri mandiri, makan/ minum sendiri dan aktifitas sendiri.
e.         Pola Nutrisi
An. T mengatakan sebelum dan selama sakit an. T makan 3 x/hari, minum ± 9 gelas/hari.
f.             Pemeriksaan Fisik
KU                         : Baik              
kesadaran                : composmentis
TTV                       : N : 82 x/menit          
 TD                                     : 110/70 mmHg   
 S                            : 36. C
RR                          : 24 x/menit
g.        Kepala                  
Mesochepal, simetris, rambut hitam, tidak rontok, bersih, tidak ada pembesaran lingkar kepala.
h.        Mata
Sklera putih, tidak ada secret mata, tidak menggunakan alat bantu penglihatan (kacamata).
i.          Hidung               
Tidak ada pernafasan cuping hidung, hidung bersih.
j.          Mulut                   
Mukosa bibir lembab, tidak ada stomatitis.
k.        Telinga                 
Tidak ada secret, tidak menggunakan alat bantu pendengaran.
l.          Dada                    
Simetris.
m.      Jantung
 Inspeksi           : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi             : ictus cordis terba di intercosta 4-5
Perkusi            : sonor
Auskultasi       : terdengar bunyi jantung lup dup
n.    Paru – paru
Inspeksi           : pengembangan paru simetris ka dan ki
Palpasi             : vokal fremitus normal
Perkusi            : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi       : vesikuler, tidak ada ronchi/whezing
n.        Abdomen
Inspeksi           : simetris, datar, tidak ada lesi, bekas operasi
Auskultasi       : bising usus normal ± 28 x/menit
Perkusi            : timpani
Palpasi             : tidak ada nyeri tekan, tidak teraba massa abdomen, tidak ada benjolan
o.        Genetalia               : kelainan letak meatus uretra di penis

p.        Ekstremitas           : tidak terdapat luka, bekas operasi
q.        Kulit                      : berwarna sawo matang, utuh, turgor baik

4.        Data Penunjang

Laboratorium
Pemeriksaan
Hasil
Nilai
Satuan
HEMATOLOGI
Darah Rutin
Hb
Lekosit
Eritrosit
Hematokrit
Trombosit
Differential Count
Eosinofil
Basofil
Netrofil Batang
Netrofil Segmen
Limfosit
Monosit
Gol. Darah
Koagulasi
PPT
PPT test
PPT kontrol
PPTK
PTTK  test
PTTK kontrol
Kimia Klinik
Ureum
Creatinin


13.6
6.0
4.8
38.2 L
436 H

4
0
1
55
32
8 H
O


16.1
16.7

40.5
36.0

27.0
0.8


12.8 – 16.8
4.5 – 13
4.4 – 5.9
41 – 53
150 – 400

1 – 5
0 – 1
3 – 6
25 – 60
25 – 50
1 – 6



12 – 19
12.3 – 18.9

27 – 42
27.0 – 43.0

< 31
< 1


g/dl
10^9/L
10^12/L
%
10^9/L

%
%
%
%
%
%



Detik
Detik

Detik
Detik

mg/dl
mg/dl
5.        Analisa Data

Nama               : An. T
Umur               : 1,5 Thn
No
Data
Masalah
Etiologi
1.
DS : an. T mengatakan cemas menghadapi operasi
DO : an. T terlihat gelisah
Ansietas
Prosedur pembedahan/ ancaman pada status kesehatan
2.
DS : -
DO :
-      BAK lancar tetapi tidak memancar
-      Letak meatus uretra di penil
-      BAK ± 5x/hari (1500 cc)
-      Minum ± 9 gelas/hari
Gangguan eliminasi urine
Obstruksi anatomik

6.        Diagnosa, Intervensi dan Rasional

Nama               : An. T
Umur               : 1,5 Thn
No
Tanggal/jam
Dx. Kep
Intervensi
TT
Tujuan
Tindakan
Rasional
1.
20/11/13
08.00
Cemas b.d prosedur pembedahan/ancaman pada status kesehatan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 15 menit diharapkan cemas hilang dengan KH :
- Px. mengungkapkan cemas berkurang/hilang
- Px. terlihat rileks
- TTV dalam batas normal
TD : < 140/90 mmHg
RR : 16 -24 x/mnt
N : 60-90 x/mnt
S : 36.5-37.5’C
-  Kaji tingkat kecemasan Px. (Berat, sedang, ringan)




-  Kaji TTV




-  Beri dukungan emosional

-  Ajarkan teknik relaksasi dengan musik atau nonton TV
-  Beri pengetahuan dengan menjelaskan tentang uji diagnostik tindakan operasi dan pengobatan.
-  Untuk mengetahui tingkat kecemasan dan tepat cara memberikan asuhan keperawatan
-  Untuk mengetahui seberapa tingkat kecemasan Px.
-  membantu mengurangi kecemasan
-  membantu mengurangi kecemasan

-  Agar Px. Mengetahui tentang jalannya operasi dan kecemasan pasien berkurang
RR
2.
20/11/13
10.00
Gangguan eliminasi urine b.d obstruksi anatomik
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x7 jam diharapkan pola berkemih lancar
-  Monitor intake & output
-  Menyediakan waktu yang cukup untuk mengosongkan bladder

-  Monitor distensi kandung kemih
-  Menyediakan perlak dikasur


-  Mencegah konstipasi
-  Mengetahui balance cairan
-  Mengurangi distensi kandung kemih


-  Mengetahui kondisi kandung kemih
-  Mencegah adanya perembesan urine tanpa sengaja
-  Mengurangi distensi kandung kemih
RR


























Satuan Acara Penyuluhan

Topik                           : Hipospadia
Sasaran                        : Keluarga pasien yang berada di Poli Urologi
Tempat                                    : Ruang Poli Urologi Rumkital Dr. Ramelan Surabaya
Hari/ Tanggal                          : Rabu, 27 November 2013
Waktu                                     : 10.00 WIB – Selesai
I.    Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan sasaran mampu dan memahami apa yang dimaksud dengan penyakit Hipospadia

II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan sasaran dapat :
1)      Menjelaskan kembali pengertian dari penyakit Hipospadia.
2)      Menjelaskan kembali penyebab pada penyakit Hipospadia.
3)      Menjelaskan kembali tanda-tanda pada penyakit Hipospadia.
4)      Menjelaskan kembali tentang  penatalaksanaan pada penyakit Hipospadia.
5)      Menjelaskan kembali komplikasi penyakit Hipospadia.

III. Sasaran
Keluarga pasien yang berada di Poli Urologi  RSAL

IV. Materi
1)        Pengertian dari penyakit Hipospadia.
2)        Penyebab penyakit Hipospadia.
3)        Tanda-tanda pada penyakit Hipospadia.
4)        Penatalaksanaan pada penyakit Hipospadia.
5)        Komplikasi penyakit Hipospadia.

V.    Metode
1.      Ceramah
2.      Tanya – jawab
VI. Media
1.      Flipchart
2.      Leaflet
3.      LCD

VII. Pengorganisasian
     Pembawa Acara :           Septia
     Moderator          :           Dimas
         Pemateri             :           1.         Rillia
                                                2.         Dwi
         Observer             :           Ika                                          
         Notulen              :           Helmy
Fasilitator           :
         1.         Amalia
         2.         Rio
         3.         Yusuf

VIII. Job Deskription
Moderator          :
Membantu penyaji dalam mengorganisasikan anggota penyuluhan,   membuka dan menutup penyuluhan, memimpin jalannya proses diskusi.
Pemateri             :
Menyampaikan materi dan menjawab pertanyaan.
Observer            :
Mengevaluasi proses berlangsungnya penyuluhan, meliputi evaluasi struktur, evaluasi proses dan evaluasi hasil.
Notulen              :
Mencatat hasil penyuluhan meliputi pertanyaan dan feedback dari peserta.
Fasilitator                       :
Memfasilitasi dan memotivasi anggota penyuluhan untuk berperan aktif, memfokuskan kegiatan, membantu mengkoordinasikan anggota kelompok.

IX.       Setting Tempat

Oval: Moderator
Flipchart
 
Oval: Notulen  Oval: PenyajiOval: Observer



Peserta
 
Peserta
 
Peserta
 
Peserta
 
Peserta
 
Peserta
 
Peserta
 
Peserta
 

Fasilitator
 
Fasilitator
 

X.    Kriteria Evaluasi
1.         Evaluasi Struktur
1)        Peserta hadir ditempat yang sudah ditentukan untuk penyuluhan minimal 10 orang.
2)        Penyuluhan kesehatan dilaksanakan di Poli Urologi Rumkital Dr.Ramelan Surabaya.
3)        Sarana dan prasarana memadai.

2.         Evaluasi Proses
1)      Moderator memberi salam dan memperkenalkan diri.
2)      Moderator menjelaskan tujuan dari penyuluhan.
3)      Moderator melakukan kontrak waktu dan menjelaskan mekanisme penyuluhan.
4)      Moderator menyebutkan materi penyuluhan yang akan diberikan.
5)      Pemateri menjelaskan tentang pengertian penyakit Hipospadia.
6)      Pemeteri menjelaskan tentang penyebab penyakit Hipospadia.
7)      Pemateri menjelaskan tentang tanda-tanda pada penyakit Hipospadia.
8)      Pemateri menjelaskan tentang penatalaksanaa pada penyakit Hipospadia.
9)      Pemateri menjelaskan tentang komplikasi pada penyakit Hipospadia.
10)  Pemateri menjelaskan tentang penyakit Hipospadia.
11)  Peserta memperhatikan terhadap materi penyuluhan.
12)  Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan sampai selesai.
13)  Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dengan benar.

3.         Evaluasi Hasil
1)  Peserta memahami tentang penyakit Hipospadia
2)  Jumlah peserta yang hadir dalam penyuluhan sesuai yang diharapkan.
3)  Kegiatan berjalan sesuai dengan tujuan yang dicapai

XI. KegiatanPenyuluhan
No
Waktu
Kegiatan Penyuluh
Kegiatan Peserta
1
5 Menit
Pembukaan:
a.    Memberi salam dan memperkenalkan diri.
b.    Menjelaskan tujuan dari penyuluhan.
c.    Melakukan kontrak waktu.
d.   Membagikan leaflet


a.       Menjawab salam dan mendengarkan.
b.      Mendengarkan.

c.       Mendengarkan.
d.      Menerima leaflet

2
15 Menit
Pelaksanaan :
a.       Menggali informasi yang telah diketahui peserta tentang penyakit Hipospadia.
b.      Memberikan penjelasan tentang:
1)      Pengertian Hipospadia
2)      Penyebab Hipospadia
3)      Tanda-tanda Hipospadia
4)      Penatalaksanaan Hipospadia
5)      Komplikasi Hipospadia

a.       Menyampaikan informasi yang telah diketahui.

b.      Mendengarkan dan memperhatikan.






3
20 Menit
Diskusi :
a.       Memberi kesempatan bertanya kepada peserta
b.      Menjawab pertanyaan dari peserta.


a.       Memberikan pertanyaan.

b.      Mendengarkan jawaban.
4
5 Menit
Penutup :
a.       Feedback materi.

b.      Mengucapkan terima kasih dan salam penutup.

a.       Menyebutkan sesuai materi yang diberikan
b.      Mendengarkan dan membalas salam.



XII.    Materi
Materi yang diberikan
Uraian Materi
Hasil
1.      Pengertian Hipospadia
Hypospadia adalah kelainan bawaan berupa lubang urethra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis (Ngastiyah, 2005).
Hypospadia adalah kongenital anomali yang mana urethra bermuara pada sisi bawah penis /perineum (Suriadi dan Rita Yuliani, 2001).
Hypospadia adalah suatu kelainan bawaan (Konsenital) dimana meatus urethra eksternus terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal pada ujung penis (Fitri purwanto, 2001).

2.      Penyebab penyakit Hipospadia
1)   Gangguan dan ketidakseimbangan hormon.
Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau bisa juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormon androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
2)   Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi.
3)   Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.

3.      Tanda-Tanda Penyakit Hipospadia
1)   Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.
2)   Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis.
3)   Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
4)   Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
5)   Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
6)   Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
7)   Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
8)   Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
9) Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.
4.      Penatalaksanaan penyakit Hipospadia
7.   Operasi pelepasan chordee dan tunneling
Dilakukan pada usia 1,5-2 tahun. Pada tahap ini dilakukan operasi eksisi chordee dari  muara uretra sampai ke glands penis. Setelah eksisi chordee maka penis akan menjadi lurus tetapi meatus uretra masih terletak abnormal. Untuk melihat keberhasilan eksisi dilakukan tes ereksi buatan intraoperatif dengan menyuntikkan NaCL 0,9% kedalan korpus kavernosum
8.   Operasi uretroplasty
Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari kulit penis bagian ventral yang di insisi secara longitudinal pararel di kedua sisi.
5.      Komplikasi  penyakit Hispopadia
1. Infertilitas
2. Resiko hernia inguinalis
3. Gangguan psikososial

Peserta penyuluhan dijelaskan tentang apa yang dimaksud dengan penyakit Hipospadia.
Peserta juga dijelaskan mengenai penyebab, tanda-tanda, penatalaksanaan, dan komplikasi pada penyakit Hipospadia.
Materi disampaikan agar para peserta penyuluhan mengerti akan tentang apa yang dimaksud dengan penyakit Hipospadia.  Pemateri juga menjelaskan mengenai penyebab, tanda-tanda, penatalaksanaan, dan komplikasi pada penyakit Hipospadia.










Pages

Social Icons

Popular Posts

Social Icons

About Me

Foto Saya
1 kelas bukan berarti hanya sekumpulan orang-orang pada suatu waktu. Tapi kami adalah teman, sahabat, keluarga, belahan jiwa, yang mempunyai mimpi dan harapan yang sama mengenai masa depan kami :))

Featured Posts