BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kelainan konginetal pada penis menjadi suatu masalah yang
sangat penting, karena selain berfungsi sebagai pengeluaran urine juga
berfungsi sebagai alat seksual yang pada kemudian hari dapat berpengaruh
terhadap fertilitas. Salah satu kelainan konginetal terbanyak kedua pada penis
setelah cryptorchidism yaitu hipospadia. Hipospadia adalah suatu kelainan
bawaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis.
(Ngastiyah, 2005 : 288). Istilah hipospadia berasal dari bahasa Yunani, yaitu
Hypo (below) dan spaden (opening). Hipospadia menyebabkan terjadinya berbagai
tingkatan defisiensi uretra. Jaringan fibrosis yang menyebabkan chordee
menggantikan fascia Bucks dan tunika dartos. Kulit dan preputium pada bagian
ventral menjadi tipis, tidak sempurna dan membentuk kerudung dorsal
di atas glans (Duckett, 1986, Mc Aninch, 1992). Selain berpengaruh terhadap
fungsi reproduksi yang paling utama adalah pengaruh terhadap psikologis dan
sosial anak.
Penyebab
dari hiposapadia ini sangat multifaktorial antara lain disebabkan oleh gangguan
dan ketidakseimbangan hormone, genetika dan lingkungan. Ganguan keseimbangan
hormon yang dimaksud adalah hormone androgen yang mengatur organogenesis
kelamin (pria). Sedangkan dari faktor genetika, dapat terjadi karena gagalnya
sintesis androgen sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi. Dan untuk
faktor lingkunagn adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat
mengakibatkan mutasi.
Di
Amerika Serikat, hipospadia diperkirakan terjadi sekali dalam kehidupan
dari 350 bayi laki-laki yang dilahirkan. Angka
kejadian ini sangat berbeda tergantung dari etnik dan geogafis. Di
Kolumbia 1 dari 225 kelahiran bayi laki-laki, Belakangan ini di beberapa
negara terjadi peningkatan angka kejadian hipospadia seperti di daerah Atlanta
meningkat 3 sampai 5 kali lipat dari 1,1 per 1000 kelahiran pada tahun 1990
sampai tahun 1993. Banyak penulis melaporkan angka kejadian hipospadia
yang bervariasi berkisar antara 1 : 350 per kelahiran laki-laki. Bila ini kita
asumsikan ke negara Indonesia karena Indonesia belum mempunyai data pasti
berapa jumlah penderita hipospadia dan berapa angka kejadian hipospadia. Maka
berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik tahun 2000 menurut kelompok umur dan
jenis kelamin usia 0 – 4 tahun yaitu 10.295.701 anak yang menderita hipospadia
sekitar 29 ribu anak yang memerlukan penanganan repair hipospadia.
Penatalaksanaan
hipospadia pada bayi dan anak dilakukan dengan prosedur pembedahan. Tujuan utama
pembedahan ini adalah untuk merekontruksi penis menjadi lurus dengan meatus
uretra di tempat yang normal atau dekat normal sehingga pancaran kencing
arahnya ke depan. Umumnya di Indonesia banyak terjadi kasus hipospadia karena
kurangnya pengetahuan para bidan saat menangani kelahiran karena seharusnya
anak yang lahir itu laki-laki namun karena melihat lubang kencingnya di bawah
maka di bilang anak itu perempuan. Oleh karena itu kita sebagai
seorang tenaga medis harus memberikan informasi yang adekuat kepada para orang
tua tentang penyakit ini. Para orang tua hendaknya menghindari faktor- faktor
yang dapat menyebabkan yang dapat menyebabkan hipospadia dan mendeteksi secara
dini kelainan pada anak mereka sehingga dapat dilakukan penanganan yang
tepat.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian penyakit
Hipospadia?
2.
Bagaimana etiologi penyakit
Hipospadia?
3.
Bagaimana manifestasi klinis
penyakit Hipospadia?
4.
Bagaimana klasifikasi penyakit
Hipospadia?
5.
Bagaimana patofisiologi penyakit
Hipospadia?
6.
Apa jasa komplikasi dari penyakit
Hipospadia?
7.
Bagaimana pemeriksaan penunjang
penyakit Hipospadia?
8.
Bagaimana penatalaksanaan penyakit
Hipospadia?
9.
Bagaimana terapi penyakit
Hipospadia?
10.
Bagaimana WOC dari penyakit
Hipospadia?
11.
Bagimana askep penyakit
Hipospadia?
1.3
Tujuan
1.
Menjelaskan pengertian penyakit
Hipospadia
2.
Menjelaskan etiologi penyakit Hipospadia
3.
Menjelaskan manifestasi klinis
penyakit Hipospadia
4.
Menjelaskan klasifikasi penyakit
Hipospadia
5.
Menjelaskan patofisiologi penyakit
Hipospadia
6.
Menjelaskan komplikasi dari
penyakit Hipospadia
7.
Menjelaskan pemeriksaan penunjang
penyakit Hipospadia
8.
Menjelaskan penatalaksanaan penyakit Hipospadia
9.
Menjelaskan terapi penyakit
Hipospadia
10. Menjelaskan WOC dari penyakit Hipospadia
11. Menjelaskan askep penyakit Hipospadia
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian
Hipospadia adalah suatu
keadaan dimana uretra terbuka di permukaan bawah penis, skrotum atau
peritonium. Hipospadia sendiri berasal dari dua kata yaitu “hypo” yang berarti
“di bawah” dan “spadon“ yang berarti keratan yang panjang.

Hipospadia
terjadi pada 1 dalam 300 kelahiran anak laki-laki dan merupakan anomali penis
yang paling sering. Perkembangan uretra in utero dimulai dimulai sekitar usia 8
minggu dan selesai dalam 15 minggu. Uretra terbentuk dari penyatuan lipatan
uretra sepanjang permukaan ventral penis. Glandula uretra terbentuk dari
kanalisasi funikulus ektoderm yang tumbuh melalui glands untuk menyatu dengan
lipatan uretra yang menyatu. Hipospadia terjadi bila penyatuan di garis tengah
lipatan uretra tidak lengkap sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral
penis. Ada berbagai derajat kelainan letak ini seperti pada glandular (letak
meatus yang salah pada glands), korona (pada sulkus korona), penis (disepanjang
batang penis), penoskrotal (pada pertemuan ventral penis dan skrotum), dan
perineal (pada perineum). Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai
topi yang menutupi sisa dorsal glands. Pita jaringan fibrosa yang dikenal
sebagai chordee, pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan)
ventral dari penis.

2.2
Etiologi
Penyebab sebenarnya sangat
multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui penyebab pasti dari hipospadia.
Namun, ada beberapa faktor yang oleh para ahli dianggap paling berpengaruh
antara lain :
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon.
Hormon yang dimaksud di sini
adalah hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau bisa
juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau
tidak ada. Sehingga walaupun hormon androgen sendiri telah terbentuk cukup akan
tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu
efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen
tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya
sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengode
sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi.
3. Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi
penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat
mengakibatkan mutasi.
2.3
Manifestasi klinis
1.
Glans
penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis
yang menyerupai meatus uretra eksternus.
2.
Preputium
(kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis.
3.
Adanya
chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga
ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
4.
Kulit
penis bagian bawah sangat tipis.
5.
Tunika
dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
6.
Dapat
timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
7.
Chordee
dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
8.
Sering
disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
9.
Kadang
disertai kelainan kongenital pada ginjal.
2.4
Klasifikasi
1.
Tipe
sederhana/Tipe anterior
Terletak di anterior yang terdiri
dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe ini, meatus terletak pada pangkal
glands penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak
memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi
atau meatotomi.
2.
Tipe
penil/Tipe Middle
Middle yang terdiri dari distal
penile, proksimal penile, dan penoscrotal. Pada tipe ini, meatus terletak
antara glands penis dan skrotum. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu
tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung
ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan
intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit di bagian ventral
prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena
sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan bedah selanjutnya.
3.
Tipe
Posterior
Posterior yang terdiri dari tipe
scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu,
kadang disertai dengan skrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya
testis tidak turun.
2.5
Patofisologi
Hipospadia terjadi karena tidak lengkapnya perkembangan
uretra dalam utero. Terjadi karena adanya hambatan penutupan uretra penis pada
kehamilan minggu ke 10 sampai minggu ke 14. Gangguan ini terjadi apabila uretra
jatuh menyatu ke midline dan meatus terbuka pada permukaan ventral dari penis.
Prepusium bagian ventral kecil dan tampak seperti kap atau menutup. Kelainan terjadi akibat kegagalan lipatan uretra untuk
berfusi dengan sempurna pada masa pembentukan saluran uretral embrionik.
Abnormalitas dapat menyebabkan infertilitas dan masalah psikologis apabila
tidak diperbaiki (Muscari, 2005). Fungsi dari garis tengah dari lipatan uretra
tidak lengkap terjadi sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral dari
penis. Ada berbagai derajat kelainan letak meatus ini, dari yang ringan yaitu
sedikit pergeseran pada glans, kemudian disepanjang batang penis hingga
akhirnya di perineum. Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai tapi
yang menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal
sebagai chordee pada sisi
ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari penis
(Anak-hipospadia).
2.6
Komplikasi
Komplikasi
dari hipospadia antara lain :
1. Infertilitas
Dapat
terjadi disfungsi ejakulasi pada pria dewasa. Apabila chordee nya parah, maka
penetrasi selama hubungan intim tidak dapat dilakukan (Corwin, 2009).
2.
Resiko hernia inguinalis.
3.
Gangguan psikososial malu karena perubahan posisi BAK.
2.7
Pemeriksaan penunjang
Diagnosis dilakukan dengan dengan
pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir atau bayi. Karena kelainan lain dapat
menyertai hipospadia, dianjurkan pemeriksaan yang menyeluruh, termasuk
pemeriksaan kromosom (Corwin, 2009).
1.
Rontgen
2.
USG sistem kemih kelamin
3.
BNO – IVP karena biasanya pada hipospadia juga disertai
dengan kelainan kongenital ginjal
4.
Kultur urine (Anak-hipospadia)
2.8
Penatalaksanaan
Dikenal
banyak tehnik operai hipospadia, yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu
:
1.
Operasi Pelepasan Chordee dan Tunneling
Dilakukan pada usia 1,5-2 tahun. Pada tahap ini dilakukan operasi
eksisi chordee dari muara uretra sampai
ke glands penis. Setelah eksisi chordee maka penis akan menjadi lurus tetapi
meatus uretra masih terletak abnormal. Untuk melihat keberhasilan eksisi
dilakukan tes ereksi buatan intraoperatif dengan menyuntikkan NaCL 0,9% kedalam korpus kavernosum.
2.
Operasi Uretroplasty
Biasanya dilakukan 6 bulan setelah
operasi pertama. Uretra dibuat dari kulit penis bagian ventral yang di
insisi secara longitudinal paralel
di kedua sisi.
2.9 Terapi
1.
Koreksi Bedah
Koreksi
bedah mungkin perlu dilakukan sebelum usia anak 1 atau 2 tahun. Sirkumsisi
harus dihindari pada bayi baru lahir agar kulup dapat digunakan untuk perbaikan
dimasa mendatang (Corwin, 2009).
2.
Persiapan Prabedah
Informasikan orang tua bahwa pengenalan lebih
dini penting sehingga sirkumsisi dapat dihindari, kulit prepusium digunakan
untuk bedah perbaikan (Muscari, 2005).
3.
Penatalaksanaan Pasca Bedah
a.
Anak harus dalam tirah baring
b.
Baik luka penis dan tempat luka
donor harus dijaga tetap bersih dan kering
c.
Perawatan kateter
d.
Pemeriksaan urin untuk memeriksa
kandungan bakteri
e.
Masukan cairan yang adekuat untuk
mempertahankan aliran ginjal dan mengencerkan toksin
f.
Pengangkatan jahitan kulit setelah
5-7 hari
2.10
WOC
2.11 Asuhan Keperawatan
A.
Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada
hari Rabu, 20 November 2013 pukul 08.00 WIB di Poli Urologi Rumkital Dr.Ramelan
Surabaya.
1. Identitas Klien
Nama : An. T
Alamat : Dinoyo
Tanggal lahir / Umur
: 22 Mei 2012 / 1,5 Tahun
Jenis
kelamin
: Laki - Laki
Agama : Islam
No
Register
: 4611XX
Tanggal
masuk : 19 November 2013
Dx.
Medis
: Hipospadia
2.
Riwayat Sakit dan Kesehatan
a. Keluhan Utama
BAK
lancar tetapi tidak memancar.
b. Riwayat
Penyakit Sekarang
Pada tanggal 10 November 2013, An. T rencana akan
disirkumsisi di dokter. Namun, baru diinsisi sedikit dokter tidak berani
melanjutkan sirkumsisi. Lalu dari dokter dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Di RSUD Dr.Soetomo mengantri banyak pasien, karena dari dokter menyarankan agar tidak
terlalu lama maka An. T dari RSUD
Dr.Soetomo dibawa ke Rumkital Dr.Ramelan Surabaya pada tanggal 19 November 2013. Oleh dokter Poli Urologi Rumkital Dr.Ramelan dianjurkan
untuk operasi. Operasi tanggal 21
November 2013 jam 10.00 WIB. Sekarang An. T dirawat di Ruang D1 Rumkital Dr.Ramelan Surabaya. An. T mengatakan cemas akan menjalani operasi, An. T terlihat
gelisah.
c. Riwayat Kehamilan dan
Kelainan
1. Prenatal
Ny. S sebagai ibunya
klien mengatakan selalu memeriksakan kehamilannya ke
bidan, setiap 1 bulan sekali, dan sudah mendapat imunisasi TT dan tidak ada
riwayat penyakit selama hamil.
2. Intranatal
Ny. S mengatakan melahirkan secara normal dibantu oleh
bidan dengan BBL : 3100 gr, PB : 50 cm.
3. Postnatal
Ny. S mengatakan An. T diberi ASI eksklusif dan diberi makanan tambahan
(MPASI) setelah ± 5 bulan usianya.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
1. Penyakit
waktu kecil : Tidak ada
2. Di
rawat di
RS
: Belum pernah
3. Obat
yang digunakan : Tidak ada
4. Tindakan
operasi
: Belum
pernah
5.
Alergi
: Udang
6. Kecelakaan
: Tidak ada
7. Imunisasi
: BCG,
Polio, DPT, Hepatitis B
8. Riwayat Kesehatan Keluarga
a)
Genogram
Keterangan :
Laki-laki
Perempuan
Hubungan
Tinggal serumah
Pasien
Meninggal
x
b)
Penyakit keturunan
Ny. S mengatakan keluarga tidak ada yang
menderita penyakit hipospadia, dan an. T tidak memiliki penyakit keturunan
seperti asma, hipertensi, DM.
e.
Riwayat Sosial
An. T dirawat oleh kedua orang
tua dan nenek, dengan keadaan rumah bersih, dekat dengan keramaian (jalan raya),
dilingkungan perumahan.
3.
Pola Sehari-hari
a.
Pola istirahat
An. T mengatakan sebelum dan selama sakit
tidur ± 8 – 10 jam/hari.
b.
Personal hygiene
An. T mengatakan sebelum dan selama sakit
mandi 2 x / hari.
c.
Pola eliminasi
An. T mengatakan sebelum dan selama sakit BAB 1 x/hari, BAK ± 5 x/hari
(1500 cc). BAK lancar tetapi tidak memancar.
d.
Pola aktifitas latihan
Dalam kegiatan sehari-hari an. T dapat melakukan perawatan diri
mandiri, makan/ minum sendiri dan aktifitas sendiri.
e.
Pola Nutrisi
An. T mengatakan sebelum dan selama sakit an. T makan 3 x/hari, minum ±
9 gelas/hari.
f.
Pemeriksaan Fisik
KU
:
Baik
kesadaran :
composmentis
TTV
: N : 82 x/menit
TD : 110/70
mmHg
S :
36. 3̊ C
RR
: 24 x/menit
g.
Kepala
Mesochepal, simetris, rambut hitam, tidak rontok, bersih, tidak ada
pembesaran lingkar kepala.
h.
Mata
Sklera putih, tidak ada secret mata, tidak menggunakan alat bantu
penglihatan (kacamata).
i.
Hidung
Tidak ada pernafasan cuping hidung, hidung
bersih.
j.
Mulut
Mukosa bibir lembab, tidak ada stomatitis.
k.
Telinga
Tidak ada secret, tidak menggunakan alat
bantu pendengaran.
l.
Dada
Simetris.
m.
Jantung
Inspeksi
: Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi
: ictus cordis terba di intercosta 4-5
Perkusi
: sonor
Auskultasi
: terdengar bunyi jantung lup dup
n. Paru – paru
Inspeksi
: pengembangan paru simetris ka dan ki
Palpasi
: vokal fremitus normal
Perkusi
: sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi
: vesikuler, tidak ada ronchi/whezing
n.
Abdomen
Inspeksi
: simetris, datar, tidak ada lesi, bekas operasi
Auskultasi
: bising usus normal ± 28 x/menit
Perkusi
: timpani
Palpasi
: tidak ada nyeri tekan, tidak teraba massa abdomen, tidak ada benjolan
o.
Genetalia
: kelainan
letak meatus uretra di penis
p.
Ekstremitas
: tidak terdapat luka, bekas operasi
q.
Kulit
: berwarna sawo matang, utuh, turgor baik
4.
Data Penunjang
Laboratorium
|
Pemeriksaan
|
Hasil
|
Nilai
|
Satuan
|
|
HEMATOLOGI
Darah Rutin
Hb
Lekosit
Eritrosit
Hematokrit
Trombosit
Differential Count
Eosinofil
Basofil
Netrofil Batang
Netrofil Segmen
Limfosit
Monosit
Gol. Darah
Koagulasi
PPT
PPT test
PPT kontrol
PPTK
PTTK test
PTTK kontrol
Kimia Klinik
Ureum
Creatinin
|
13.6
6.0
4.8
38.2 L
436 H
4
0
1
55
32
8 H
O
16.1
16.7
40.5
36.0
27.0
0.8
|
12.8 – 16.8
4.5 – 13
4.4 – 5.9
41 – 53
150 – 400
1 – 5
0 – 1
3 – 6
25 – 60
25 – 50
1 – 6
12 – 19
12.3 – 18.9
27 – 42
27.0 – 43.0
< 31
< 1
|
g/dl
10^9/L
10^12/L
%
10^9/L
%
%
%
%
%
%
Detik
Detik
Detik
Detik
mg/dl
mg/dl
|
5.
Analisa Data
Nama
: An. T
Umur
: 1,5 Thn
|
No
|
Data
|
Masalah
|
Etiologi
|
|
1.
|
DS : an. T mengatakan cemas menghadapi operasi
DO : an. T terlihat gelisah
|
Ansietas
|
Prosedur pembedahan/ ancaman pada status
kesehatan
|
|
2.
|
DS : -
DO :
- BAK lancar tetapi tidak
memancar
- Letak meatus uretra di
penil
- BAK ± 5x/hari (1500 cc)
- Minum ± 9 gelas/hari
|
Gangguan eliminasi urine
|
Obstruksi anatomik
|
6.
Diagnosa, Intervensi dan
Rasional
Nama
: An. T
Umur
: 1,5 Thn
|
No
|
Tanggal/jam
|
Dx. Kep
|
Intervensi
|
TT
|
|
Tujuan
|
Tindakan
|
Rasional
|
|
1.
|
20/11/13
08.00
|
Cemas b.d prosedur
pembedahan/ancaman pada status kesehatan
|
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 2 x 15 menit diharapkan cemas hilang dengan KH :
- Px. mengungkapkan cemas berkurang/hilang
- Px. terlihat rileks
- TTV dalam batas normal
TD : < 140/90 mmHg
RR : 16 -24 x/mnt
N : 60-90 x/mnt
S : 36.5-37.5’C
|
- Kaji tingkat kecemasan Px. (Berat, sedang,
ringan)
- Kaji TTV
- Beri dukungan emosional
- Ajarkan teknik relaksasi dengan musik atau nonton TV
- Beri pengetahuan dengan menjelaskan tentang uji
diagnostik tindakan operasi dan pengobatan.
|
- Untuk mengetahui tingkat kecemasan dan tepat cara
memberikan asuhan keperawatan
- Untuk mengetahui seberapa tingkat kecemasan Px.
- membantu mengurangi kecemasan
- membantu mengurangi kecemasan
- Agar Px. Mengetahui tentang jalannya operasi dan kecemasan pasien berkurang
|
RR
|
|
2.
|
20/11/13
10.00
|
Gangguan eliminasi urine
b.d obstruksi anatomik
|
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 1x7 jam diharapkan pola berkemih lancar
|
- Monitor intake & output
- Menyediakan waktu yang cukup untuk mengosongkan
bladder
- Monitor distensi kandung kemih
- Menyediakan perlak dikasur
- Mencegah konstipasi
|
- Mengetahui balance cairan
- Mengurangi distensi kandung kemih
- Mengetahui kondisi kandung kemih
- Mencegah adanya perembesan urine tanpa sengaja
- Mengurangi distensi kandung kemih
|
RR
|
Satuan
Acara Penyuluhan
Topik : Hipospadia
Sasaran : Keluarga pasien yang berada di Poli Urologi
Tempat :
Ruang Poli Urologi Rumkital Dr. Ramelan Surabaya
Hari/ Tanggal :
Rabu, 27 November 2013
Waktu :
10.00 WIB – Selesai
I. Tujuan Instruksional Umum
Setelah
diberikan penyuluhan diharapkan sasaran mampu dan memahami apa yang dimaksud
dengan penyakit Hipospadia
II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan penyuluhan
diharapkan sasaran dapat :
1)
Menjelaskan kembali pengertian
dari penyakit Hipospadia.
2)
Menjelaskan kembali penyebab pada
penyakit Hipospadia.
3)
Menjelaskan kembali tanda-tanda
pada penyakit Hipospadia.
4)
Menjelaskan kembali tentang penatalaksanaan pada penyakit Hipospadia.
5)
Menjelaskan kembali komplikasi
penyakit Hipospadia.
III.
Sasaran
Keluarga
pasien yang berada di Poli Urologi RSAL
IV.
Materi
1)
Pengertian dari penyakit
Hipospadia.
2)
Penyebab penyakit Hipospadia.
3)
Tanda-tanda pada penyakit
Hipospadia.
4)
Penatalaksanaan pada penyakit
Hipospadia.
5)
Komplikasi penyakit Hipospadia.
V.
Metode
1.
Ceramah
2.
Tanya – jawab
VI.
Media
1.
Flipchart
2.
Leaflet
3.
LCD
VII.
Pengorganisasian
Pembawa Acara : Septia
Moderator :
Dimas
Pemateri : 1. Rillia
2. Dwi
Observer : Ika
Notulen : Helmy
Fasilitator :
1. Amalia
2. Rio
3.
Yusuf
VIII. Job Deskription
Moderator :
Membantu penyaji dalam
mengorganisasikan anggota penyuluhan,
membuka dan menutup penyuluhan, memimpin jalannya proses
diskusi.
Pemateri :
Menyampaikan materi dan menjawab
pertanyaan.
Observer :
Mengevaluasi proses berlangsungnya
penyuluhan, meliputi evaluasi struktur, evaluasi proses
dan evaluasi hasil.
Notulen :
Mencatat hasil penyuluhan meliputi pertanyaan dan feedback dari peserta.
Fasilitator :
Memfasilitasi dan
memotivasi anggota penyuluhan untuk berperan aktif, memfokuskan kegiatan, membantu
mengkoordinasikan anggota kelompok.
IX. Setting Tempat
X.
Kriteria Evaluasi
1.
Evaluasi
Struktur
1)
Peserta
hadir ditempat yang sudah ditentukan untuk penyuluhan
minimal 10 orang.
2)
Penyuluhan kesehatan dilaksanakan
di Poli Urologi Rumkital
Dr.Ramelan Surabaya.
3)
Sarana
dan prasarana memadai.
2.
Evaluasi
Proses
1) Moderator memberi salam dan
memperkenalkan diri.
2) Moderator menjelaskan tujuan dari
penyuluhan.
3) Moderator melakukan kontrak waktu
dan menjelaskan mekanisme penyuluhan.
4) Moderator menyebutkan materi
penyuluhan yang akan diberikan.
5) Pemateri menjelaskan tentang pengertian penyakit Hipospadia.
6) Pemeteri menjelaskan tentang penyebab penyakit Hipospadia.
7) Pemateri menjelaskan tentang tanda-tanda pada penyakit Hipospadia.
8) Pemateri menjelaskan tentang penatalaksanaa pada penyakit Hipospadia.
9) Pemateri menjelaskan tentang komplikasi pada penyakit Hipospadia.
10) Pemateri menjelaskan tentang penyakit Hipospadia.
11) Peserta memperhatikan terhadap
materi penyuluhan.
12) Tidak ada peserta yang meninggalkan
tempat penyuluhan sampai selesai.
13) Peserta mengajukan pertanyaan dan
menjawab pertanyaan dengan benar.
3.
Evaluasi
Hasil
1) Peserta memahami tentang penyakit Hipospadia
2) Jumlah peserta yang hadir dalam penyuluhan sesuai
yang diharapkan.
3) Kegiatan berjalan sesuai dengan
tujuan yang dicapai
XI.
KegiatanPenyuluhan
|
No
|
Waktu
|
Kegiatan Penyuluh
|
Kegiatan Peserta
|
|
1
|
5 Menit
|
Pembukaan:
a. Memberi salam
dan memperkenalkan diri.
b. Menjelaskan tujuan dari
penyuluhan.
c. Melakukan kontrak waktu.
d. Membagikan leaflet
|
a. Menjawab salam dan mendengarkan.
b. Mendengarkan.
c. Mendengarkan.
d. Menerima leaflet
|
|
2
|
15 Menit
|
Pelaksanaan
:
a. Menggali informasi yang telah diketahui peserta tentang penyakit
Hipospadia.
b. Memberikan penjelasan tentang:
1) Pengertian Hipospadia
2) Penyebab Hipospadia
3) Tanda-tanda Hipospadia
4) Penatalaksanaan Hipospadia
5) Komplikasi Hipospadia
|
a. Menyampaikan informasi yang telah diketahui.
b. Mendengarkan dan memperhatikan.
|
|
3
|
20 Menit
|
Diskusi :
a. Memberi kesempatan bertanya kepada
peserta
b. Menjawab pertanyaan dari peserta.
|
a. Memberikan pertanyaan.
b. Mendengarkan jawaban.
|
|
4
|
5 Menit
|
Penutup :
a. Feedback materi.
b. Mengucapkan
terima kasih dan salam
penutup.
|
a. Menyebutkan sesuai materi yang
diberikan
b. Mendengarkan dan membalas salam.
|
XII.
Materi
|
Materi yang diberikan
|
Uraian Materi
|
Hasil
|
|
1. Pengertian Hipospadia
Hypospadia adalah kelainan bawaan berupa lubang urethra yang terletak
di bagian bawah dekat pangkal penis (Ngastiyah, 2005).
Hypospadia adalah kongenital
anomali yang mana urethra bermuara pada sisi bawah penis /perineum (Suriadi
dan Rita Yuliani, 2001).
Hypospadia adalah suatu kelainan bawaan
(Konsenital) dimana meatus urethra eksternus terletak di permukaan ventral penis
dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal pada ujung penis (Fitri
purwanto, 2001).
2. Penyebab penyakit
Hipospadia
1) Gangguan dan
ketidakseimbangan hormon.
Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon
androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau bisa juga karena
reseptor hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak
ada. Sehingga walaupun hormon androgen sendiri telah terbentuk cukup akan
tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu
efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen
tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
2) Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen.
Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengode sintesis
androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi.
3) Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi
penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat
mengakibatkan mutasi.
3. Tanda-Tanda Penyakit
Hipospadia
1)
Glans
penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah
penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.
2)
Preputium
(kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis.
3)
Adanya
chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang
hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
4)
Kulit
penis bagian bawah sangat tipis.
5)
Tunika
dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
6)
Dapat
timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
7)
Chordee
dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
8)
Sering
disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
9) Kadang disertai kelainan
kongenital pada ginjal.
4. Penatalaksanaan penyakit
Hipospadia
7.
Operasi pelepasan chordee dan tunneling
Dilakukan pada usia 1,5-2 tahun. Pada tahap
ini dilakukan operasi eksisi chordee dari
muara uretra sampai ke glands penis. Setelah eksisi chordee maka penis
akan menjadi lurus tetapi meatus uretra masih terletak abnormal. Untuk
melihat keberhasilan eksisi dilakukan tes ereksi buatan intraoperatif dengan
menyuntikkan NaCL 0,9% kedalan korpus kavernosum
8.
Operasi uretroplasty
Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi
pertama. Uretra dibuat dari kulit penis bagian ventral yang di insisi secara
longitudinal pararel di kedua sisi.
5. Komplikasi penyakit Hispopadia
1. Infertilitas
2. Resiko hernia inguinalis
3. Gangguan psikososial
|
Peserta penyuluhan dijelaskan tentang apa yang dimaksud dengan penyakit Hipospadia.
Peserta
juga dijelaskan mengenai penyebab, tanda-tanda, penatalaksanaan, dan
komplikasi pada penyakit Hipospadia.
|
Materi disampaikan
agar para peserta penyuluhan mengerti akan tentang apa yang dimaksud dengan
penyakit Hipospadia. Pemateri juga menjelaskan mengenai penyebab,
tanda-tanda, penatalaksanaan, dan komplikasi pada penyakit Hipospadia.
|