twitter


BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LatarBelakang Dialisis merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut. Tujuan dialisis adalah untuk mempertahankan kehidupan dan kesejahteraan pasien sampai fungsi ginjal pulih kembali. Metode terapi mencakup hemodialisis, hemofiltrasi dan pritoneal dialisis. Pada dialisis, molekul solut berdifusi lewat membran semipermeabel dengan cara mengalir dari sisi cairan yang lebih pekat ( konsentrasi solut lebih rendah ). Cairan mengalir lewat membran semipermeabel dengan cara osmosis atau ultrafiltrasi ( aplikasi tekanan exsternal pada membran ). Pada hemodialisis, membran merupakan bagian dari dialiser atau “ ginjal artifisial” pada peritoneal dialisis, permukaan peritoneum atau lapisan dinding abdomen berfungsi sebagai membran semipermeabel. Hemodialisis dapat dilakukan pada saat toksin atau zat racun harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan permanen atau menyebabkan kematian. Hemofiltrasi digunakan untuk mengeluarkan cairan yang berlebihan. Peritoneal dialisis mengeluarkan cairan lebih lambat daripada bentuk – bentuk dialisis yang lain. Diperkirakan bahwa ada lebihdari 100.000 pasienya yang akhir – akhir ini menjalani hemodialisis. Hemodialisis merupakan suatu proses yang digunakan pada pasien dalam keadaan sakit akut dan memerlukan terapi dialisis jangka pendek ( beberapa hari hingga beberapa minggu ) atau pasien dengan penyakit ginjal stadium terminal ( ESRD ; end-stage renal disease ) yang membutuhkan terapi jangka panjang atau terapi permanen. Sehelai membransintetic yang semipermeabel menggantikan glomerulus serta tubulus renal dan bekerja sebagai filter bagi ginjal yang terganggu fungsi yaitu bagi penderita gagal ginjal kronis, hemodialisis akan mencegah kematian. Namun demikian, hemodialisis tidak menyembuhkan atau memulihkan penyakit ginjal dan tidak mampu mengimbangi hilangnya aktifitas metabolik atau endokrin yang dilaksanakan ginjal dan dampak dari gagal ginjal serta terapinya terhadap kualitas hidup pasien. Pasien – pasien ini harus menjalani terapi dialisis sepanjang hidupnya ( biasanya 3x seminggu selama paling sedikit 3 atau 4 jam per kali terapi ) atau sampai mendapat ginjal baru memulai operasi pencangkokkan yang berhasil. Pasien memerlukan terapi dialisis yang kronis kalau terapi ini diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan mengendalikan gejala uremia. 1.2. RumusanMasalah 1. Apa pengertian dari Dialysis ? 2. Apa pengertian dari Hemodialysis 3. Apa saja prinsip yang mendasari Hemodialysis ? 4. Bagaimana penatalaksanaan pasien yang menjalani Hemodialysis jangka panjang ? 5. Apa komplikasi Hemodialysis? 6. Apa pengertian Dialysis peritoneal ? 7. Apa tujuan dan indikasi Dialysis peritoneal ? 8. Apa pengertian dari CAPD ? 9. Apa saja prinsip dari CAPD ? 10. Apa saja indikasi dan kontraindikasi CAPD ? 11. Apa komplikasi CAPD? 1.3. Tujuan 1.3.1. TujuanUmum Mengetahui asuhan keperawatan dan pendidikan kesehatan tentang Hemodyalisis 1.3.2. Tujuan Khusus 1. Menjelaskan pengertian dari Dialysis 2. Menjelaskan pengertian dari Hemodialysis 3. Menjelaskan saja prinsip yang mendasari Hemodialysis 4. Menjelaskan penatalaksanaan pasien yang menjalani Hemodialysis jangka panjang 5. Menjelaskan komplikasi Hemodialysis 6. Menjelaskan pengertian Dialysis peritoneal 7. Menjelaskan tujuan dan indikasi Dialysis peritoneal 8. Menjelaskan pengertian dari CAPD 9. Menjelaskan saja prinsip dari CAPD 10. Menjelaskan saja indikasi dan kontraindikasi CAPD 11. Menjelaskan komplikasi CAPD BAB 2 ISI 2.1 Anatomi dan Fisiologi Ginjal Ginjal merupakan organ yang terpenting dalam mempertahankan homeostatis cairan tubuh. Berbagai fungsi ginjal untuk mempertahankan homeostatis dengan mengatur volume cairan keseimbangan osmotik, asam basa , ekskresi sisa metabolism, dan system pengaturan hormonal dan metabolisme. Ginjal terletak dalam rongga abdomen retroperitoneal kiri dan kanan kolumna vertebralis, dikelilingi oleh lemak dan jaringan ikat dibelakang peritoneum.Batas atas ginjal setinggi iga ke-11 dan ginjal kanan setinggi iga ke-12, sedangkan batas bawah setinggi vertebralis lumbalis ke-3. Setiap ginjal mempunyai panjang 11,25 cm, lebar 5-7 cm dan tebal 2,5 cm. ginjal kiri memiliki ukuran lebih panjang dari pada ginjal kanan. Berat ginjal pria dewasa 150-170 gram dan wanita 155-155 gram. Bentuk ginjal seperti kacang , sisi dalam menghadap ke vertebra torakalis, sisi permukaannya cembung, dan di atas setiap ginjal terdapat sebuah kelenjar suprarenal. Struktur Ginjal Ginjal ditutup oleh kapsula tunika fibrosa yang kuat.Apabila kapsula dibuka terlihat permukaan ginjal yang licin dengan warna merah tua. Dengan potongan melintang vertical dari ginjal melalui margo lateralis ke margo medialis akan terlihat hilus yang meluas keruangan sentral yang disebut sinus renalis yaitu bagian dari pelvis renalis. Ginjal terdiri atas : 1. Medula (bagian dalam) : substansi medularis terdiri atas pyramidalis renalis, jumlahnya antara 1-16 buah yang mempunyai basis sepanjang ginjal, sedangkan apeksnya menghadap kesinus renalis. 2. Korteks (bagian luar) : substansi kortekalis berwarna coklat merah, konsistensi lunak, dan bergranula. Substansi tepat dibawah fibrosa, melengkung sepanjang basis pyramid yang berdekatan dengan sinus renalis. Bagian dalam di antara pyramid dinamakan kolumna renalis. Pembungkus ginjal Ginjal dibungkus oleh massa jaringan lemak yang disebut kapsula adipose. Bagian yang paling tebal terdapat pada tepi ginjal memanjang melalui hilus renalis.Ginjal dan kapsula adipose tertutup oleh lamina khusus dari fasia subserosa yang disebut fasia renalis yang terdapat diantara lapisan dalam dari fasia profunda dan stratum fasia subserosa internus. Fasia fibrosa terpecah menjadi dua : 1. Lamela anterior atau fasia prentalis 2. Lamella posterior atau fasia retrorenalis. Struktur Mikroskopis Ginjal Satuan fungsional ginjal disebut juga nefron, mempunyai ±1,3 juta. Selama 24 jam nefron dapat menyaring 170 liter darah. Aerteri renalis membawa darah murni dari aorta ke ginjal.Lubang-lubang yang terdapat pada renal pyramid masing-masing membentuk simpul yang terdiri atas suatu badan malpigi yang disebut glomerulus. Bagian-bagian dari nefron 1. Glomerulus Bagian ini merupakan gulungan atau anyaman kapiler ynag terletak di dalam kapsula Bowman menerima darah dari arteriole aferen dan meneruskan ke system vena melalui arteriol eferen.Natrium secara bebas difiltrasi ke dalam glomerulus sesuai dengan konsentrasi dalam plasma.Kalium juga difiltrasi secara bebas, diperkirakan 10-20% dari kalium plasma terikat oleh protein dalam keadaan normal.Kapsula Bowman ujung-ujung buntu tubulus ginjal seperti kapsula cekung menutupi glomerulus yang saling melilitkan diri. a. Elektro mikroskopis glomerulus. Glomerulus berdiameter 200 um, dibetuk oleh invaginasi suatu anyaman kapiler yang menempati kapsula Bowman. Glomerulus mempunyai 2 lapisan yang memisahkan darah dari dalam kapiler glomerulus dan filtrate dalam kapsula bowman. Lapisan tersebut endotel khusus yang terletak di atas kapiler glomerulus. Kedua lapisan ini dibatasi oleh lamina basalis dan terdapat sel-sel stelata. Sel ini mirip sel parasit yang terdapat pada dinding kapiler seluruh tubuh. b. Aparatus junkta glomerulus. Arteri aferen dan ujung akhir ansa Henle asendens tebal, nefron yang sama bersentuhan untuk jarak yang pendek. Pada titik persentuhan, sel tubulus atau ansa Henle asendens menjadi tinggi disebut macula densa. Dinding arteriol bersentuhan dengan ansa Henle menjadi tebal karena sel-selnya mengandung butiran sekresi renin yang besar. Sel ini disebut sel junkta glomelurus. Makula densa dan sel junkta glomerulus erat kaitannya dengan pengaturan. Volume cairan ekstra sel dan tekanan darah. c. Sawar ginjal adalah istilah yang digunakan untuk bangunan yang memisahkan darah kapiler glomerulus dari filtrate dalam rongga kapsula Bowman. Partikel ini dihubungkan dengan membrane celah lapisan yang utuh sebagai saringan utama yang mencegah lewatnya molekul besar. Partikel yang lebih halus melalui sawar dan tergantung pada tekanan hidrostatik darah dalam kapiler glomerulus. Pada umumnya tekanan hidrostatik darah adalah 75 mmHg. 2. Tubulus proksimal konvulta. Tubulus ginjal yang langsung berhubunagn dengan kapsula Bowman dengan panjang 15 mm dan diameter 55 um. Bentuknya berbelok-belok berjalandari korteks ke bagian medulla lalu kembali ke korteks sekitar 2/3 dari natrium yang terfiltrasi akan diabsorpsi secara isotonic bersama klorida. Proses ini melibatkan transport aktif natrium. Peningkatan reabsorpsi natrium akan mengaurangi pengeluaran air dan natrium. Hal ini dapat menggangu pengenceran dan pemekatan urin yang normal. Lebih dari 70% kemungkinan kalium direabsorpsi dan dengan mekanisme transport aktif akan terpisan dari reabsorpsi natrium. 3. Ansa Henle Bentuknya lurus dan tebal diteruskan ke segmen tipis selanjutnya ke segmen tebal panjangnya 12 mm, total panjangnya ansa Henle 2-14 mm. klorida secara aktif diserap kembali pada cabang ansa Henle dan natrium bergerak secara pasif untuk mempertahankan kenetralan listrik.Sekitar 25% natrium yang difiltrasi diserap kembali karena darah nefron tidak permeable terhadap air. Reabsorpsi kloridan dan natrium di pars asendens penting untuk pemekatan urin karena membantu mempertahankan intregitas gradient konsentrasi medulla. Kalium terfiltrasi 20-25% diabsorpsi pada pars asendens lengkung Henle. Proses pasif terjadi karena gradient elektrokimia yang timbul sebagai akibat dari reabsorpsi aktif klorida pada segmen nefron ini. 4. Tubulus distal konvulta Bagian ini adalah bagian tubulus ginjal yang berkelok-kelok dan letaknya jauh darikapsul bowman, panjangnya 5mm. tubulus distal dari masing-masing nefron bermuara keduktus koligentis yang panjangnya 20mm. masing-masing duktus koligens berjalan melalui korteks dan medulla ginjal bersatu membentuk suatu duktus yang berjalan lurus dan bermuara pada duktus bellini, seterusnya menuju kaliks minor, kekaliks mayor dan akhirnya mengosongkan isisnya kedalam pelvis renalis pada apeks masing-masing pyramid medulla ginjal. Panjang nefron keseluruhan ditambah dengan duktus koligentis adalah 45-65 mm. nefron yang berasal dari glomerulus korteks mempunyai ansa henle yang memanjang kedalam piramid medulla. 5. Duktus koligentis medulla Saluran yang secara metabolic tidak aktif.Pengaturan secara halus dari ekskresi natrium urine terjadi disini dengan aldosteron yang paling berperan dalam reabsorbsi natrium.Duktus ini memiliki kemampuan mereabsorbsi dan mensekresi kalium.Ekskresi aktif kalium dilakukan pada kuktus koligen kortikal dan dikendalikan oleh aldosteron.Reabsorbsi aktif kalium murni terjadi dalam duktus koligen medulla. Peredaran darah ginjal Ginjal mendapat darah dari arteri renalis yang merupakan cabang aorta abdominalis sebelum masuk kemasa ginjal.Arteri renalis mempunyai cabang besar yaitu arteri renalis anterior dan posterior.Cabang anterior memberikan darah untuk ginjal anterior dan ventral dari ginjal sedangkan cabang posterior memberikan darah untuk bagian ginjal posterior dan bagian dorsal. Diantara kedua cabang ini terdapat suatu garis sepanjang margo lateral dari ginjal. Pada garis ini tidak terdapat pembuluh darah sehingga kedua cabang ini menyebar sampai kebagian anterior dan posterior dari kolisis sampai kemedulla ginjal. Pembuluh darah yang terletak diantara pyramid disebut arteri arquarta. Pembuluh darah ini akan bercabang menjadi interlobularis yang berjalan tegak kedalam korteks dan berakhir sebagai: 1) Vasa aferen glomerulus untuk 1-2 glomerulus 2) Pleksus kapiler sepanjang tubulus melingkar dalam krteks tanpa berhubungan dengan glomerulus, 3) Pembuluh darah menembus kapsula bowmen. Dari glomerulus keluar pembuluh darah aferen, selanjutnya dapat anyaman melindungi tubulli kontorti.Selain itu terdapat cabang yang lurus menuju kepelvis renalis dan memberikan darah untuk ansa henle dan duktus koligen dinamakan arteri rektae. Setelah itu pembuluh rambut ini, darah kemudian berkumpul dalam kapiler vena yang bentuknya seperti bintang disebut stellatae dan berjalan kevena inter lobularis. Persarafan Ginjal Saraf ginjal terdiri atas ±15 ganglion.Ganglion ini membentuk pleksus renalis yang berasal dari cabang terbawah dan diluar ganglion pleksus seliaka, pleksus akutikus dan bagian bawah splenikus. Pleksus renalis digabung dengan pleksus spermatikus dengan cara memberikan beberapa serabut yang dapat menimbulkan nyeri pada testis, pada kelainan ginjal. Fisiologi Ginjal Kebanyakan orang telah mengenal salah satu fungsi ginjal yang penting yaitu untuk membersihkan tubuh dari bahan – bahan sisa hasil pencernaan atau yang di produksi oleh metabolisme.Fungsi kedua merupakan fungsi yang sangat penting, yaitu untuk mengontrol volume dan komposisi cairan tubuh.Untuk air dan semua elektrolit dalam tubuh, keseimbangan antara asupan (hasil dari pencernaan atau produksi metabolik) dan keluaran (hasil dari ekskresi atau konsumsi metabolik) sebagian besar dipertahankan oleh ginjal.Fungsi pengaturan oleh ginjal ini memelihara kestabilan lingkungan sel yang diperlukan untuk melakukan berbagai aktivitasnya. Ginjal melakukan fungsinya yang paling penting dengan cara menyaring plasma dan memisahkan zat dari filtrat dengan kecepatan yang bervariasi, bergantung pada kebutuhan tubuh. Akhirnya, ginjal “membuang” zat – zat yang tidak diinginkan dari filtrat (dan oleh karena itu dari darah) dengan cara mengekskresikannya ke dalam urine, sementara zat yang dibutuhkan dikembalikan kedalam darah. Ginjal menjalankan fungsi multipel, antara lain : 1. Ekskresi produk sisa metabolik, bahan kimia asing, obat, dan metabolit hormon. Ginjal merupakan organ utama untuk membuang produk sisa metabolisme yang tidak diperlukan lagi oleh tubuh. Produk – produk ini meliputi urea (dari metabolisme asam amino), kreatinin (dari kreatin otot), asam urat (dari asam nukleat), produk akhir pemecahan hemoglobin (seperti bilirubin), dan metabolit berbagai hormon. Produk – produk sisa ini harus dibersihkan dari tubuh secepat produksinya.Ginjal juga membuang sebagian besar toksin dan zat asing lainnya yang diproduksi oleh tubuh atau pencernaan, seperti pestisida, obat – obatan, dan zat aditif makanan. 2. Pengaturan keseimbangan air dan elektrolit Untuk mempertahankan homeostasis, ekskresi air dan elektrolit harus sesuai dengan asupannya. Jika asupan melebihi ekskresi, jumlah zat dalam tubuh akan meningkat. Jika asupan kurang dari ekskresi, jumlah zat dalam tubuh akan berkurang. Asupan air dan banyak elektrolit terutama ditentukan oleh kebiasaan makan dan minum seseorang, sehingga mengharuskan ginjal untuk mengatur kecepatan ekskresinya sesuai dengan asupan berbagai macam zat. Pada gambar diatas memperlihatkan respon ginjal terhadap kenaikan mendadak asupan natrium sebanyak 10 kali lipat dari kadar rendah 30 mEq/hari mencapai kadar tinggi 300 mEq/hari. Dalam waktu 2 sampai 3 hari setelah kenaikan asupan natrium, ekskresi ginjal juga meningkat hingga kira – kira 300 mEq/hari, sehingga keseimbangan antara asupan dan keluaran tercapai kembali. Namun, selama 2 sampai 3 hari berlangsungnya adaptasi ginjal terhadap asupan natrium yang tinggi ini, terjadi akumulasi sejumlah natrium yang sedikit meningkatkan volume cairan ekstrasel, serta memicu perubahan hormonal dan respons kompensasi lainnya, yang memberi sinyal kepada ginjal untuk meningkatkan ekskresi natriumnya. Kapasitas ginjal sangat besar untuk mengubah ekskresi natriumnya sebagai respons terhadap perubahan asupan natrium. Penelitian eksperimental telah menunjukkan bahwa pada banyak orang, asupan natrium dapat ditingkatkan hingga 1500 mEq/hari (lebih dari 10 kali normal) atau diturunkan hingga 10 mEq/hari (kurang dari sepersepuluh jumlah normal) dengan perubahan volume cairan ekstrasel atau perubahan konsentrasi natrium plasma yang relatif kecil. Hal ini juga berlaku pada air dan sebagian besar elektrolit lainnya, seperti ion klorida, kalium, kalsium, hidrogen, magnesium, dan fosfat. 3. Pengaturan tekanan arteri Ginjal berperan penting dalam mengatur tekanan arteri jangka panjang dengan mengekskresikan sejumlah natrium dan air.Selain itu, ginjal turut mengatur tekanan arteri jangka pendek dengan menyekresikan faktor atau zat vasoaktif, seperti renin, yang menyebabkan pembentukan produk vasoaktif lainnya (misalnya angiotensin II). 4. Pengaturan keseimbangan asam–basa Ginjal turut mengatur asam–basa, bersama dengan paru dan sistem dapar cairan tubuh, dengan cara mengekskresikan asam dan mengatur penyimpanan dapar cairan tubuh. Ginjal merupakan satu – satunya organ untuk membuang tipe – tipe asam tertentu dari tubuh, seperti asam sulfur dan asam fosfat yang dihasilkan dari metabolisme protein. 5. Pengaturan produksi eritrosit Ginjal menyekresikan eritropoietin, yang merangsang pembentukan sel darah merah.Salah satu rangsangan yang penting untuk sekresi eritropoietin oleh ginjal ialah hipoksia.Pada manusia normal, ginjal menghasilkan hampir semua eritropoietin yang disekresi ke dalam sirkulasi.Pada orang dengan penyakit ginjal berat atau yang ginjalnya telah diangkat dan digantikan dengan hemodialisis, timbul anemia berat sebagai hasil dari penurunan produksi eritropoietin. 6. Pengaturan produksi 1,25-Dihidroksivitamin D3 Ginjal menghasilkan bentuk aktif vitamin D, yaitu 1,25-Dihidroksivitamin D3 (kalsitriol), dengan menghidroksilasi vitamin ini pada posisi “nomor 1”. Kalsitriol penting untuk deposit kalsium yang normal dalam tulang dan reabsorpsi kalsium oleh saluran cerna. Kalsitriol memegang peranan penting dalam pengaturan kalsium dan fosfat. 7. Sintesis glukosa Ginjal menyintesis glukosa dari asam amino dan prekursor lainnya selama masa puasa yang panjang, proses ini disebut glukoneogenesis.Kapasitas ginjal untuk menambahkan glukosa pada darah selama masa puasa yang panjang dapat menyaingi hati. Pada penyakit ginjal kronik atau gagal ginjal akut, fungsi homeostatik ini terganggu, dan kemudian terjadi abnormalitas komposisi dan volume cairan tubuh yagn berat dan cepat.Pada gagal ginjal komplit, dalam beberapa hari saja dapat terjadi akumulasi kalium, asam, cairan dan zat – zat lainnya dalam tubuh sehingga menyebabkan kematian, kecuali jika ada intervensi klinis seperti hemodialisis untuk memulihkan (paling tidak sebagian) keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit. 2.2 Anatomi dan Fisiologi Peritoneum Sama halnya dengan keberadaan pericardium pada jantung (cor/ cardiac) dan pleura pada paru2 (pulmo), pada cavum abdomen terdapat selaput pembungkus nya juga yg disebut dengan peritoneum. Peritoneum merupakan membrane serose tipis yg membatasi dinding abdomen dan cavum pelvis. Peritoneum ini dibagi menjadi 2, yaitu peritoneum parietal yang terletak lbh eksternal dan menghadap pada dinding abdomen, dan peritoneum visceral yang langsung menempel pada organ2 yang ada di dalam cavum abdomen. Di antara peritoneum parietal dan peritoneum visceral ini terdapat suatu rongga yang disebut dengan cavum peritonii atau cavitas peritoneal. Peritonii atau Cavitas Peritoneal Di antara peritoneum parietal dan peritoneum visceral ini terdapat suatu rongga yang disebut dengan cavum peritonii atau cavitas peritoneal. Pada pria rongga ini tertutup (tidak berhubungan dengan dunia luar). Sedangkan pada wanita rongga ini berhubungan dengan dunia luar melalui tuba uterine, uterus dan vagina. Cavum peritoneal ini sendiri dibagi menjadi 2 bagian, yaitu kantong besar (saccus major) dan kantong kecil (saccus minor/ bursa omentalis). Saccus major merupakan ruang utama dongga peritoneal dan terbentang di seluruh lapang abdomen dari diaphragm hingga pelvis. Sedangkan saccus minor terletak di belakang dari gaster. Saccus minor ini bermuara melalui jendela kecil yang disebut dengan foramen epiploica winslow. Berikut adalah batas2 dari foramen epiploica winslow : a. Anterior : tepi bebas omentum minus yg didalamnya ada trias portae b. Posterior : Vena Cava Inferior c. Cranial : lobus caudatus hepatis d. Caudal : pars superior duodeni Daerah khusus peritoneum a. Mesenterium Merupakan lipatan peritoneum lapis ganda yg melekatkan bagian usus ke dinding posterior abdomen, terdiri atas mesenterium usus halus, mesoduodenum, mesocolon transversum, dan mesocolon sigmoidea. Keberadaan dari mesenterium ini memungkinkan usus dapat mudah bergerak dalam rongga abdomen. b. Omentum Merupakan lapisan peritoneum berlapis ganda yang melekatkan gaster ke organ berongga lainnya. Omentum ini berfungsi untuk menyimpan lemak, dan untuk mencegah terjadinya penyebaran infeksi dari organ-organ yang ditutupi oleh omentum tadi. Omentum ini dibagi menjadi 2 , yaitu : - Omentum majus Melekat pada curvature major gaster dan tergantung seperti tirai pada lekukan usus halus dan dinding anterior abdomen, lalu melipat kembali dan menempel pada tepi bawah colon transversum. - Omentum minus Menghubungakn curvature minor gaster dg permukaan bawah hepar. c. Lig. Peritoneal Merupakan lipatan peritoneum berlapis ganda yg melekatkan organ viscera padat yang kurang bisa bergerak ke dinding abdomen. Misalkan ligamentum Falciforme pada hepar. Pembagian Organ di Cavum Abdomen Berdasarkan Letaknya terhadap Peritoneum a. Organ intraperitoneal Yang dimaksud dengan organ intraperitoneal adalah organ di dalam cavum abdomen yg sebagian besar ( > 2/3 permukaan organ nya) diliputi oleh peritoneum visceral, dan biasanya organ-organ yang termasuk dalam organ intraperitoneal ini adalah organ yang memiliki penggantung. Organ yang termasuk ke dalam organ intraperitoneal antara lain : Gaster, vesica fellea, lien, duodenum pars superior, hepar, jejunum, ileum, colon transversum, colon sigmoidea, caecum , appendix vermiformis, cauda pancreas. b. Organ retroperitoneal primer/ ekstraperitoneal Yang dimaksud dengan organ ekstraperitoneal adalah organ-organ di dalam cavum abdomen yang sebagian kecil (hanya < 1/3 bagian organ nya) ditutupi oleh peritoneum visceral sejak lahir hingga dewasa, biasanya organ-organ yang termasuk dalam organ ekstraperitoneal ini melputi organ-organ tractus urinarius dan vaskular-vaskular besar. Organ-organ yang termasuk dalam organ ekstraperitoneal antara lain : ren, ureter, vesica urinaria, Vena Cava Inferior, aorta abdominalis, ductus thoracicus c. Organ ekstraperitoneal sekunder Yang dimaksud dengan organ ekstraperitoneal sekunder adalah organ-organ di dalam cavum abdomen yang semula terletak intraperitoneal kemudian menjadi retroperitoneal. Organ-organ yang termasuk ke dalam organ retroperitoneal sekunder antara lain : colon ascendens, colon descendens, rectum, pancreas (caput, collum, corpus), duodenum (pars descendens, pars transversum, pars descendens). 2.3 Dialisis Dialisis merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut. Tujuan dialisis adalah untuk mempertahankan kehidupan dan kesejahteraan pasien sampai fungsi ginjal pulih kembali. Metode terapi mencakup hemodialisis, hemofiltrasi dan pritoneal dialisis. Pada dialisis, molekul solut berdifusi lewat membran semipermeabel dengan cara mengalir dari sisi cairan yang lebih pekat (konsentrasi solut lebih rendah). Cairan mengalir lwat membran semiperneabel dengan cara osmosis atau ultrafiltrasi (aplikasi tekanan exsternal pada membran). Pada hemodialisis, membran merupakan bagian dari dialiser atau “ ginjal artifisial. “ pada peritoneal dialisis, permukaan peritoneum atau lapisan dinding abdomen berfungsi sebagai membran semipermeabel. Hemodialisis dapat dilakukan pada saat toksin atau zat racun harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan permanen atau mnyebabkan kematian. Hemofiltrasi digunakan untuk mengeluarkan cairan yang berlebihan. Peritoneal dialisis mengeluarkan cairan lebih lambat daripada bentuk – bentuk dialisis yang lain. Dialisis dilakukan pada gagal ginjal untuk mengeluarkan zat – zat toksik dan limbah tubuh yang dalam keadaan normal diekskresikan oleh ginjal yang sehat. Dialisis juga dilakukan dalam penanganan pasien dengan edema yang membandel (tidak responsif terhadap terapi), koma hepatikium, hiperkalsemia, nipertensi dan uremia. Dialisis akut diperlukan bila terdapat kadar kalium yang tinggi atau yang meningkat, kelebihan muatan cairan atau edema pulmoner yang mengancam, asidosis yang meningkat, perikarditis dan konfusi yang berat. Tindakan ini juga dapat dikerjakan untuk menghilangkan obat – obat tertentu atau toksin lain (keracunan atau dosis obat yang berlebihan). Dialisis kronis atau pemeliharaan dibutuhkan pada gagal ginjal kronis (penyakit ginjal stadium terminal ) dalam keadaan berikut : terjadinya tanda-tanda dan gejala uremia yang mengenai seluruh sistem tubuh (mual serta muntah, anoreksia berat, peningkatanletargi, konfusi mental), kadar kalium serum yang meningkat, muatan cairan berlebih yang tidak responsif terhadap terapi diuretik serta pembatasan cairan dan penurunan status kesehatan yang umum. Disamping itu, terdengarnya suara gesekan perikardium (pericardial friction rub), melalui auskultasi merupakan indikasi yang mendesak untuk dilakukan dialisis untuk pasien gagal ginjal kronis. Keputusan untuk memulai dialisis baru dapat diambil setelah dilakukan pembahasan dengan pemikiran yang mendalam antara pasien, keluarga dan dokter. Masalah – masalah yang dominan berhubungan dengan indikasi dialisis dan sering menuntut perubahan gaya hidup yang drastis. Perawat dapat membantu pasien dan keluarga dengan menjawab semua pertanyaan mereka, menjelaskan informasi dan menyokong keputusan mereka (lihat peragaan masalah etika). 2.4 Hemodialisis Diperkirakan bahwa ada lebih dari 100.000 pasienya yang akhir – akhir ini menjalani hemodialisis. Hemodialisis merupakan suatu proses yang digunakan pada pasien dalam keadaan sakit akut dan memerlukan terapi dialisis jangka pendek (beberapa hari hingga beberapa minggu) atau pasien dengan penyakit ginjal stadium terminal ( ESRD ; end-stage renal disease ) yang membutuhkan terapi jangka panjang atau terapi permanen. Sehelai membran sintetic yang semipermeabel menggantikan glomerulus serta tubulus renal dan bekerja sebagai filter bagi ginjal yang terganggu fungsinya itu. Bagi penderita gagal ginjal kronis, hemodialisis akan mencegah kematian. Namun demikian, hemodialisis tidak menyembuhkan atau memulihkan penyakit ginjal dan tidak mampu mengimbangi hilangnya aktifitas metabolik atau endokrin yang dilaksanakan ginjal dan dampak dari gagal ginjal serta terapinya terhadap kualitas hidup pasien. Pasien – pasien ini harus menjalani terapi dialisis sepanjang hidupnya (biasanya 3x seminggu selama paling sedikit 3 atau 4 jam per kali terapi ) atau sampai mendapat ginjal baru memulai operasi pencangkokkan yang berhasil. Pasien memerlukan terapi dialisis yang kronis kalau terapi ini diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan mengendalikan gejala uremia. 2.4.1 Prinsip – prinsip yang Mendasari Hemodialisis Tujuan hemodialisis adalah untuk mengambil zat- zat nirogen yang toksik dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan. Pada hemodialisis, aliran darah yang penuh dengan toksin dan limbah nitrogen dialihkan dari tubuh pasien ke dialiser tempat darah tersebut dibersihkan dan kemudian dikembalikan lgi ketubuh pasien. Sebagaian besar dialiser merupakan lempengan rata atau ginjal serat artifisial rongga yang berisi ribuan ubulus selofan yang halus yang bekerja sebagai membran emipermeabel. Aliran darah akan melewati tubulus tersebut sementara cairan dialisat bersikualisi di sekelilingnya. Pertukaran limbah dari darah kedalam cairan dialisat akan terjadi melalui membran semi permeabel tubulus. Ada 3 prinsip yang mendasari kerja hemodialisis yaitu : difusi, osmosis dan ultrafiltrasi. Toksin dan zat limbah didalam darah dikeluarkan melalui proses difusi dengan cara bergerak dari darah, dapat dikendalikan dengan mengatur rendaman dialisat (dialysate bath) secara tepat. ( pori – pori kecil dalam membran semipermeabel tidak memungkinkan lolosnya sel darah merah dan protein). Air yang berlebihan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses osmosis. Pengeluaran air dapat dikendalikan dengan menciptakan gradien tekanan ; dengan kata lain, air bergerak dari daerah dengan tekanan yang lebih tinggi (tubuh pasien) ketekanan yang lebih rendah (cairan dialisat). Gradien ini dapat ditingkatkan melaluin penambahan tekanan negatif yang dikenal sebagai ultrafiltrasi pada mosin dialisasi. Tekanan negatif diterapkan pada alat ini sebagai kekuatan penghisap pada membran dan memfasilitasi pengeluaran air. Karena pasien tidak dapat mengekskresikan air, kekuatan ini diperlukan untuk mengeluarkan cairan hingga tercapai isovolemia (keseimbangan cairan ) . Sistem dapar ( buffer system ) tubuh dipertahankan dengan penambahan asetat yang akan berdifusi dari cairan dialisat ke dalam darah pasien dan mengalami metabolisme untuk membentuk bikarbonat. Darah yang sudah dibersihkan kemudian dikembalikan ke dalam tubuh melalui pembuluh vena pasien. Pada akhir terapi dialisis, banyak zat limbah telah dikeluarkan, keseimbangan elektrolit sudah dipulihkan dan sistem dapar juga telah diperbarui. Pada saat dialisis, pasien, dialiser dan rendaman dialisat memerlukan memantauan yang konstan untuk mendeteksi berbagai komplikasi yang dapat terjadi (misalnya, embolit udara, ultra filtrasi yang tidak adekuat atau berlebihan [hipotensi, keram, muntah], perembesan darah, kontanrinasi dan komplikasi terbentuknya pirau atau pistula). Perawat dalam unit dialisis memiliki peranan yang penting dalam memantau serta memberikan peranan yang penting dalam memantau serta memberikan dukungan kepada pasien dan dalam melaksanakan program pengkajian dan pendidikan pasien yang berkelanjutan. Alat dialisis yang ada sekarang telah mengalami perubahan dari segi teknologi, dan banyak kemajuan telah dicapai dalam penanganan penyakit ginjal stadium - terminal. Seperti dinyatakan sebelumnya, kebanyakan dialiser merupakan dialiser lempengan yang rata atau serat berongga. Pembedaan antara kedua bentuk ini terletak pada kerja dan biokompatibilitasnya. Biokompatibilitas mengacu kepada kemampuan dialiser untuk mencapai tujuannya tanpa menimbulkan hyper sensitivitas, alergi atau reaksi yang merugikan lainya. Sebagaian dialiser akan mengeluarkan molekul dengan berat sedang dengan laju yang lebih cepat dan melakukan ultrafilterasi dengan kecepatan tinggi. Hal ini diperkirakan akan memperkecil kemungkinan neuropati extremitas bawah yang merupakan komplikasi hemodialisis yang berlangsung lama. Pada umumnya semakin efisien dialiser, semakin besar biayanya. 2.4.2 Akses pada Sirkulasi Darah Pasien. Kateter subklavia dan femoralis. Akses segera kedalam sirkulasi darah pasien pada hemodialisis darurat dicapai melalui kateterisasi sublavia untuk pemakaian sementara. Kateter dwi-lumen atau multi-lumen dimasukan kedalam vena sublavia meskipun metode akses vaskuler ini bukannya tanpa resiko (misalnya, dapat menyebabkan ceddera vaskuler seperti hematom, infeksi, trombosis, vena sublavia dan aliran darah yang tidak adekuat). Namun metode tersebut biasanya dapat digunakan selama beberapa minggu kateter lemuralis dapat dimasukkan kedalam pembuluh darah femoralis untuk pemakaian segera dan sementara. Kateter tersebut dikeluarkan jika sudah tidak dipergunakan karena kondisi pasien telah membaik atau terdapat cara akses yang lain. Karena mayoritas pasien hemodialisis jangka panjang yang harus dirawat dirumah sakit merupakan pasien dengan kegagalan akses sirkulasi yang permanen, maka salah satu prioritas dalam perawatan pasien hemodialisis adalah perlindungan terhadap akses sirkulasi tersebut. Fistula. Fistula yang lebih permanen dibuat melalui pembedahan (yang biasanya dilakukan pada lengan bawah) dengan cara menghubungkan atau menyambung (anastomosis) pembuluh arteri dengan vena secara side-to-side (dihubungkan antar sisi) atau end to side dihubungkan antara ujung dan sisi pembuluh darah. Fistula tersebut memperlukan waktu satu hingga 6 minggu untuk menjadi matang sebelum siap digunakan. Waktu ini diperlukan untuk memberi kesempatan agar fisula pulih dan segmen vena fisula berdilatasi dengan baik sehingga dapat menerima jarum berlumen besar dengan ukuran – 14 sampai – 16 jarum ditusukan ke dalam pembuluh darah agar cukup banyak aliran darah yang akan mengalir melalui dialiser. Segmen-arteri fisula digunakan untuk aliran darah arteri dan segmen – vena digunakan untuk memasukkan kembali ( reinfus ) darah yang sudah didialis . untuk menampung aliran darah ini, segmen-arterilan –vena fistula tersebut harus lebih besar daripada pembuluh darah normal. Kepada pasien di anjurkan untuk melakukan latihan guna meningkatkan ukuran pembuluh darah ini ( yaitu, dengan meremas-rems bola karet untuk melatih fistula yang dibuat dilengan bawah ) dan dengan demikian pembuluh darah yang sudah lebar dapat menerima jarum berukuran besar yang digunakan dalam proses hemodialisis. Tandur. Dalam menyediakan lumen sebagai tempat penusukan jarum dialisis, sebuah tandur dapat dibuat dengan cara menjahit sepotong pembuluh arteri atau venalari sapi, material Gore-tex ( heterografi ) atau tandur vena safena dari pasien sendiri. Biasanya tandur tersebut dibuat bila pembuluh darah pasien sendiri tidak cocok untuk dijadikan fistula. Tandur biasanya dipasang pada lengan bawah, lengan atas atau paha bagian atas. Pasien dengan sistem vaskuler yang terganggu, seperti pasien diabetes, biasanya memerlukan pemasangan tandur sebelum menjalani hemodialis. Karena tandur tersebut merupakan darah artifisial, resiko infeksi akan meningkat. 2.4.3 Penatalaksanaan Pasien yang Menjalani Hemodialisis Jangka-panjang Diet dan masalah cairan. Diet merupakan faktor penting bagi pasien yang menjalani hemodialisis mengingat adanya efek uremia. Apabila ginjal yang rusak tidak mampu mengekskresikan produk akhir metabolisme, substansi yang bersifat asam ini akan menumpuk dalam serum pasien dan bekerja sebagai racun atau toksin. Gejala yang terjadi akibat penumpukan tersebut secara kolektif dikenal sebagai gejala uremik dan akan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Lebih banyak toksin yang menumpuk, lebih berat gejala yang timbul. Diet rendah protein akan mengurangi penumpukan limbah nitrogen dan dengan demikian meminimalkan gejala. Penumpukan cairan juga dapat terjadi dan dapat mengakibatkan gagal jantung kongestif serta edema paru. Dengan demikian, pembatasan cairan juga merupakan bagian dari resep diet untuk pasien itu. Dengan penggunaan hemodialisis yang efektif, asupan makanan pasien dapat diperbaiki meskipun biasanya memerlukan beberapa penyesuaian atau pembatasan pada asupan protein, natrium, kalium dan cairan. Berkaitan dengan pembatasan protein, maka protein dari makanan harus memiliki nilai biologis yang tinggi dan tersusun dari asam-asam amino esensial untuk mencegah penggunaan protein yang buruk serta mempertahankan keseimbangan nitrogen yang positif. Contoh protein dengan nilai biologis yang tinggi adalah telur, daging, susu dan ikan. Dampak diet rendah protein.diet yang bersifat membatasi akan merubah gaya hidup dan dirasakan pasien sebagai gangguan serta tidak disukai bagi banyak penderita gagal ginjal kronis. Karena makanan dan minuman merupakan askep penting dalam sosialisasi, pasien sering merasa disingkirkan ketika berada bersama orang-orang lain karena hanya ada beberapa pilihan makanan saja yang tersedia baginya. Jika pembatasan ini diabaikan, komplikasi yang dapat membawa kematian seperti hiperkalemia dan edema paru dapat terjadi. pasien merasa seperti “ dihukum “ bila bereaksi terhadap dorongan manusiawi dasar untuk makan dan minum. Jika seorang perawat menjumpai pasien dengan keluhan atau komplikasi akibat pelanggaran diet, tindakan untuk tidak memarahi dan menyalahkan pasien merupakan hal yang sangat penting. Pertimbangan medikasi. Banyak obat yang diekskresikan seluruhnya atau sebagian melalui ginjal. Pasien yang memerlukan obat – obatan ( preparat glikosida, jantung, antibiotik, antiaritmia, antihipertensi ) harus dipantau dengan ketat untuk memastikan agar kadar obat-obat ini dalam darah dan jaringan dapat dipertahankan tanpa menimbulkan akumulasi toksik. Resiko timbulnya efek toksik akibat obat harus dipertimbangkan bila seseorang pasien bertanya, “ apakah obat ini aman untuk sakit kepala? “ Beberapa obat akan dikeluarkan dari darah pada saat dialisis, oleh karena itu, penyesuaian dosis oleh dokter mungkin diperlukan. Obat-obat yang terikat dengan protein tidak akan dikeluarkan selama dialisis. Pengeluaran metabolit obat yang lain bergantung pada berat dan ukuran molekulnya. Apabila seorang pasien menjalani dialisis semua jenis obat dan dosisnya harus dievaluasi dengan cermat. Terapi antihipertensi, yang sering merupakan bagian dari susunan terapi dialisis, merupakan salah satu contoh dimana komunikasi, pendidikan dan evaluasi dapat memberikan hasil yang beda. Pasien harus mengetahui kapan minum obat dan kapan menundanya. Sebagai contoh, jika obat antihipertensi diminum pada hari yang sama dengan saat menjalani hemodialisis, efek hipertensi dapat terjadi selama hemodialisis dan menyebabkan tekanan darah rendah yang berbahaya. 2.4.3 Komplikasi Meskipun hemodialisis dapat memperpanjang usia tanpa batas yang jelas, tindakan ini tidak akan mengubah perjalanan alami penyakit ginjal yang mendasari dan juga tidak akan mengembalikan seluruh fungsi ginjal. Pasien tetap akan tetap akan mengalami sejumlah permasalahan dan komplikasi. Salah satu penyebab kematian di antara pasien-pasien yang menjalani hemodialisis kronis adalah penyakit kardiovaskuler arteriosklerosik. Gangguan metabolisme lipid ( hipertrigliseridemia ) tampaknya semakin diperberat dengan tindakan hemodialisis. Gagal jantung kongestif, penyakit jantung koroner serta nyeri anginapektoris, stroke dan insufisiensi vaskuler perifier juga dapat terjadi serta membuat pasien tidak berdaya. Anemia dan rasa letih dapat menyebabkan penurunan kesehatan fisik serta mental, berkurangnya tenaga serta kemauan, dan kehilangan perhatian. Ulkus lambung dan masalah gastrointestinal lainnya terjadi akibat stres fisiologik yang disebabkan oelh sakit kronis obat-obatan dan berbagai masalah yang berhubungan. Gangguan metabolisme kalsium akan menimbulkan osteodistrofi renal yang menyebabkan nyeri tulang dan fraktur. Masalah lain mencakup kelebihan muatan cairan yang berhubungan dengan gagal jantung kongestif, malnutrisi, infeksi, neuropati dan pruritus. Pasien tanpa fungsi ginjal dapat dipertahankan hidupnya selama beberapa tahun dengan tindakan hemodialisis atau peritoneal dialisis. Transplantasi ginjal yang berhasil dengan baik akan meniadahkan kebutuhan akan terapi dialisis. Meskipun biaya dialisis diganti oleh perusahaan asuransi, namun keterbatasan kemampuan pasien untuk bekerja yang ditimbulkan oleh penyakit dan dialisisakan menimbulkan masalah besar dalam hal keuangan di pihak pasien dan keluarganya. Komplikasi terapi dialisis sendiri dapat mencakup hal-hal berikut : a) Hipotensi dapat terjadi selama terapi dialisis ketika cairan dikeluarkan. b) Emboli udara merupakan komplikasi yang jarang tetapi dapat saja terjadi jika udara memasuki sistem vaskuler pasien. c) Nyeri dada dapat terjadi karena pCO2 menurun bersamaan dengan terjadinya sirkulasi darah diluar tubuh. d) Pruritus dapat terjadi selama terapi dialisis ketika produk – akhir metabolisme meninggalkan kulit e) Gangguan keseimbangan dialisis terjadi karena perpindahan cairan serebral dan muncul sebagai serangan kejang. Komplikasi ini kemungkinan terjadinya lebih besar jika terdapat gejala uremia yang berat. f) Kram otot yang nyeri terjadi ketika cairan dan elektrolit dengan cepat meninggalkan ruangan ekstrasel. g) Mual dan muntah merupakan peristiwa yang sering terjadi. 2.4.4 Pendidikan Pasien Tugas untuk mempersiapkan pemulangan pasien dialisis dari rumah sakit sering menjadi tantangan yang menarik. Penyakit tersebut dan terapi yang dilakukannya akan mempengaruhi setiap aspek dalam kehidupan pasien. Biasanya pasien tidak memahami sepenuhnya dampak dialisis, dan kebutuhan untuk mempelajarinya mungkin baru disadari lama sesudah pasien dipulangkan dari rumah sakit. Karena alasan ini. Komunikasi yang baik antara perawat yang bertugas melaksanakan dialisis, perawat rumah sakit dan perawat di rumah sangat penting dalam memberikan asuhan keperwatan yang aman dan berkelanjutan. Suatu kajian perlu dilakukan untuk mengindentifikasi kebutuhan pasien dan anggota keluarganya akan pembelajaran. Pasien yang akan memulai trapi dialisis memerlukan pengajaran tentang topik – topik berikut tujuan terapi dialisis, obat-obatan, efek samping, terapi, perawatan tempat akses vaskuler, diet dan pembatasan cairan, muatan cairan berlebih, pencegahan dan penanganan komplikasi, masalah psikososial serta keuangan. Setelah pengkajian terhadap kebutuhan akan pembelajaran selesai dilaksanakan oleh perawat, pengajaran dapat dimulai. Meskipun demikian, biasanya tidak terdapat cukup waktu untuk mengevaluasi dengan cermat hasil pembelajaran pasien. Karena itu, staf dialisis harus diberitahu dan di ikutsertakan dalam memberikan pengajaran lebih lanjut. Karena diagnosa, gagal ginjal kronis dan kebutuhan akan dialisis sering mengganggu pemikiran pasien serta keluargany, pengajaran harus dilakukan sedikit demi sedikit dan juga harus tersedia waktu untuk menjelaskan dan mengulang kembali. Pasien dan keluarganya harus diberi waktu untuk bertanya serta memperoleh penjelasan. Sikap yang tidak menyalahkan sangat penting untuk memindahkan pasien serta keluarga dalam mendiskusikan pilihan dan mengungkapkan perasaan mereka terhadap pilihan tersebut. Konferensi tim sangat membantu dalam berbagi informasi dan memberikan kesempatan kepada setiap anggota tim untuk mendiskusikan kebutuhan pasien serta keluarganya. 2.4.5 Pertimbangan psikososial Individu dengan hemodialisis jangka panjang sering merasa kwatir akan kondisi sakitnya yang tidak dapat diramalkan dan gangguan dalam kehidupannya. Mereka biasanya menghadapi masalah finansial, kesulitan dalam mempertahankan pekerjaan, dorongan seksual yang menghilang serta impotensi, depresi akibat sakit yang kronis dan ketakutan ketakutan terhadap kematia. Pasien – pasien yang berusia lebih muda khawatir terhadap perkawinan mereka, anak-anak yang dimilikinya dan beban yang ditimbulkan pada keluarga mereka. Gaya hidup terencana berhubungan dengan terapi dialisis dan pembatasan asupan makanan serta cairan menghilangkan semangat hidup pasien dan keluarganya. Dialisis menyebabkan perubahan gaya hidup pada keluarga. Waktu yang diperlukan untuk terapi dialisis akan mengurangi waktu yang tersedia untuk melakukan aktivitas sosial dan dapat menciptakan konflik, frustasi, rasa bersalah serta depresi di dalam keluarg. Keluarga pasien dan sahabat –sahabatnya mungkin memandang pasien sebagai “ orang terpinggirkan “ dengan harapan hidu[ yang terbatasbarangkali sulit bagi pasien, pasangan dan keluarganya untuk mengungkapkan rasa marah serta perasaan negatif. Meskipun perasaan tersebut normal dalam situasi ini, namun perasaan itu sering meluap sehingga diperlukan konseling dan psikoterapi. Depresi dapat terjadi dan memerlukan terapi antidepresan. Keadaan ini juga membantu mengarahkan pasien dan keluarganya kepada sumber-sumber yang ada untuk mendapatkan bantuan serta dukungan. Keluarga harus terlibat sebanyak mungkin dalam mengambil keputusan. Pasien harus diberi kesempatan untuk mengungkapkan setiap perasaan marah dan keprihatinan terhadap berbagai pembatasan yang harus dipatuhi akibat penyakit serta terapi ya disamping masalah keuangan, ketidakpastian pekerjaan, rasa sakit dan gangguan rasa nyaman yang mungkin ditimbul. Persaan kehilangan yang dihadapi pasien jangan diabaikan karena setiap askep dari kehidupan normal yang pernah dimiliki pasien telah terganggu jika rasa marah tersebut tidak diungkapkan, mungkin perasaan ini akan diproyeksikan ke dalam kedalam diri sendiri dan menimbulkan depresi, rasa putus asa serta upaya bunuh diri ; insiden bunuh diri meningkat pada pasien – pasien dialisis. Jika rasa marah tersebut diproyeksikan kepada orang lain, hal ini dapat menghancurkan hubungan keluarga. Pasien memerlukan hubungan yang erat dengan seseorang yang bisa dijadikan tempat menumpahkan perasaannya pada saat – saat stres dan kehilangan semangat. Sebagian pasien menggunakan mekanisme pengingkaran dalam menghadapi rangkaian masalah medik yang timbul ( misalnya, infeksi, hipertensi, anemia, neuropati ). Stafyang cenderung pasien sebagai individu yang tidak patuh harus dipertimbangan dampak gagal ginjal dan terapinya pada pasien beserta keluarga dan strategi koping yang digunakan. Perawat dapat memberikan dukungan kepada pasien dalam mengindentifikasi strategi koping yang efektif dan aman untuk menghadapi berbagai masalah serta rasa takut. Kadang-kadang ada saat – saat dimana diperlukan seorang psikiater mengingat keadaan depresi mungkin memerlukan penggunaan obat-obatan antidepresan. Merujuk pasien kepada ptugas kesehatan dengan keahlihan khususdalam merawat psien yang menjalani dialisis merupakan tindakan yang sangat membantu. Perawat dengan spesialisasi perawatan klinik, psikolog dan pekerja sosial merupakan petugas yang dapat membantu pasien dan keluarganya dalam menghadapi berbagai perubahan yang ditimbulkan oleh gagal ginjal dan terapinya. 2.4.6 Dialisis di Rumah Meskipun sebagian besar pasien yang memerlukan hemodialisis akan menjalani prosedur ini dalam rawat jalan, tetapi dialisis dirmh merupakan suatu pilihan bagi sebagian pasien lainna. Namun demikian, tidak semua pasien dapat menjadi calon terapi dialisis di rumah, mengingat prosedur ini memerlukan pasien dengan motivasi tnggi dan bersedia bertanggung jawab atas resiko prosedur dialisis yang dijalaninya disamping harus mampu untuk menyesuaikan setiap terapi guna memenuhi kebutuhan tubuhnya yanbg selalu berubah. Metode ini juga membutuhkan komitmen dan kerja sama dari pasangan hidupnya; biasanya pasien merasa tidak nyaman jika harus meminta bantuan dari pasangannya atau orang lain. Tim asuhan kesehatan tidak boleh memaksakan keputusan yang diambil pasien untuk menjalani dialisis di rumah. Pengambilan keputusan ini akan menyebabkan banyak perubahan yang signifikan dalam lingkungan rumah dan keluarga. Ada banyak pasien yang tidak ingin membebani keluarganya dengan pekerjaan dialisis dan sering mengatakan bahwa cara ini akan “ mengubah rumahnya menjadi sebuah klinik “. Pasien yang akan menjalani dialisis dirumah dan anggota keluarganya sebagai calon asisten harus mengikuti program pelatihan untuk belajar cara mempersiapkan, mengoprerasikan serta melepas bagian-bagian dari mesin dialisis; mempertahankan dan membersihkan peralatan tersebut; memberikan obat ( heparin ) ke dalam pipa saluran pada mesin dialiser hemodialisis, masalah elektris atau mekanis, hipertensi, syok dan kejang ) . rumah pasien harus di survey untuk melihat apakah sistem pengadaan listrik dan air bersih memadai yang perlu ditekankan adalah bahwa pasien bertanggung jawab atas terapi hemodialisis tersebut. 2.4.7 Metode Hemodialisis Lainnya High-flux dialysis. Dialisis aliran tinggi ini mengacu kepada cara dialisis dengan menggunakan membran baru yang meningkat klirens molekul dengan berat molekul kecil dan sedang. Membran ini digunakan bersama lengan laju aliran darah keluar masuk dialiser yang lebih tinggi ketimbang pada dialiser tradisional ( 500-800 ml/menit ) dan aliran cairan dialiser yang cepat ( 800 ml ). Dialisis aliran-tinggi akan meningkatkan efisiensi terapi sementara lamanya dapat dikurangi dan kebutuhan akan heparin diperkecil. Namun, tidak semua unit pelayanan dialisis yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan dialisis aliran – tinggi ini dan dengan demikian metode ini bukanlah metode yang rutin dilakukan. Continous : arteriovenous hemofiltration. Hemofiltrasi atau continous arteriovenous hemofiltration ( CAVH ) merupakan metode lain untuk menggantikan sementara fungsi ginjal. Metode ini dilakukan ditempat tidur dalam ruang perawatan intensif untuk pasien muatan cairan berlebihan akibat gagal ginjal oligurik ( keluaran urin yang rendah ) atau untuk pasien ginjal dimana ginjal tidak mampu lagi menghadapi kebutuhan nutrisi atau metaboli yang tinggi dan akut. Darah dialirkan oleh tekanan darah pasien sendiri melewati sebuah filter dengan volume kecil serta resistensi rendah dan bukan oleh tekanan pompa darah seperti yang dilakukan pada hemofiltration, darah mengalir dari arteri ( via pirau arteriovenosa atau kateter arteri ) kedalam hemofilter. Disini cairan elektrolit dan produk limbah nitrogen yang berlebihan dikeluarkan melalui ultrafiltrasi. Kemudian darah tersebut dikembalikan kedalam sirkulasi darah pasien melewati pirau arteriovenaus vena lengan atau kateter vena ultrafiltrasi yang dihasilkan dan mengandung solut yang tidak diinginkan kemudian dibuang. Cairan intravena dapat diberikan untuk menggantikan cairan yang hilang akibat prosedur tersebut. Proses hemofiltrasi berlangsung lambat dan kontinyu sehingga sesuai bagi pasien dengan sistem kardiovaskuler yang tidak stabil. Cara ini tidak memiliki gradien konseptrasi sehingga yangterjadi hanya filtrasi cairan. Elektrolit diekskresikan hanya jika terbawa dan dikeluarkan bersama cairan. Continous arteriovenous hemofiltration continous arteriovenaous hemodialysis ( CAVHD ) memiliki banyak karakteristik CAVH tetapi cara ini memiliki kelebihan berupa gradient konsentrasi, untuk memudahkan klirens atau pengeluaran ureum. CAVHD dilaksanakan dengan mengalirkan cairan dialisat pada salah satu sisi membran semipermeabel. Aliran darah melewati sistem tersebut bergantung pada tekanan arteri pasien seperti pada CAVH pompa darah tidak digunakan seperti pada hemodialisis standar. Kelebihan utama CAVH dan CAVHD adalah bahwa kedua metode ini tidak menimbilkan perpindahan cairan yang cepat sehingga tidak membutuhkan mesin dialisis atau petugas dialisis untuk melaksanakan prosedur tersebut. Kedua metode tersebut juga dapat segera dikerjakan di rumah sakit tanpa fasilitas dialisis. Akses kesistem vaskuler untuk prosedur ini dapat dilakukan melalui vistula internal yang sudah dibuat sebelumnya ( seperti yang digunakan untuk hemodialisis ) atau melalui kanulasi pembuluh darah vemoralis atau radialis. Gradient tekanan diperlukan untuk menghasilkan filtrasi yang optimal dengan demikian kanulasi arteri dan vena hemoralis akan menghasilkan gradient yang diperlukan antara tekanan arteri dan vena. Dialisis peritoneal Pada dialisis peritoneal, permukaan peritoneum yang luas sekitar 22.000cm2 berfungsi sebagai permukaan difusi. Cairan dialisat yang tepat dan steril dimasukkan kedalam kavum peritoneal menggunakan kateter abdomen dengan interval ureum dan kreatinin yang keduanya merupakan produk – akhir metabolisme yang diekskresikan oleh ginjal dikeluarkan (dibersihkan) dari darah melalui difusi dan osmosis ketika produk limbah mengalir dari daerah dengan konsentrasi tinggi ( suplai darah peritoneal ) kedaerah konsentrasi rendah ( kavum teritoneal ) melalui membran semipermeabel ( membran peritoneum ) . ureum dibersihkan dengan kecepatan 15 hingga 20 ml/menit, sedangkan kreatinin dikeluarkan lebih lambat. Biasanya dialisis peritoneal memerlukan waktu 36 hingga 48 jam untuk menyelesaikan proses pencucian darah tersebut, sementara hemodialisis selesai dikerjakan dalam tempo 6 hingga 8 jam dialisis peritonealdapat dilakukan secara intermiten ( beberapa kali dalam seminggu, dengan waktu 6 hingga 48 jam untuk setiap kali dialisis ) atau kontinyu. Salah satu kelebihan dialisis peritoneal kontinyu adalah prosedur ini akan menghasilkan pengeluaran cairan secara lambat. 2.5 Dialisis Peritoneal 2.5.1 Definisi Dialisis peritoneal adalah salah satu bentuk dialisis untuk membantu penenganan pasien GGA (gagal ginjal akut) maupun GGK (gagal ginjal kronik), menggunakan membran peritoneum yang bersifat semipermiabel. Melalui membran tersebut darah dapat difiltrasi. Keuntungan dialisis peritoneal (DP) bila dibandingkan dengan hemodialasis, secara teknik lebih sederhana, cukup aman serta cukup efisien dan tidak memerlukan fasilitas khusus, sehingga dapat di lakukan di pati kedudukan cukup penting untuk menengani kasus–kasus tertentu dalam rumah sakit besar dan modern. Pada dialisi peritoneal, permukaan peritoneum yang luasnya sekitar 22.000 cm2 berfungsi sebagai permukaan difusi. Cairan diasilat yang tepat dan steril dimasukkan ke dalam kavum peritoneal menggunakan kateter abdomen dengan interval. Ureum dan kreatinin yang keduanya merupakan produk akhir metabolisme yang dieksresikan oleh ginjal dikeluarkan (dibersihkan) dari darah melalui difusi dan osmosis ketika produk limbah mengalir dari daerah dengan konsentrasi tinggi (suplai daraj ke peritoneal) ke daerah dengan konsentrasi rendah (kavum peritoneal) melalui membran semipermeabel (membran peritoneum). Ureum dibersihkan dengan kecepatan 15 hingga 20 ml/menit, sedangkan kreatinin dikeluarkan lebih lambat. Biasanya dialisis peritoneal memerlukan waktu 36 hingga 48 jam untuk menyelesaikan proses pencucian darah tersebut, sementara hemodialisis selesai dikerjakan dalam tempo 6 hingga 8 jam. Dialisis peritoneal dapat dilakukan secara intermiten (beberapa kali dalam seminggu, dengan waktu 6 hingga 48 jam untuk setiap kali dialisis) atau kontinyu. Salah satu kelebihan dialisis peritoneal kontinyu adalah prosedur ini akan menghasilkan pengeluaran cairan secara lambat. 2.5.2 Tujuan dan Indikasi Dialisis Peritoneal Tujuan terapi ini adalah untuk mengembalikan keseimbangan cairan yang normal dengan mengeluarkan cairan yang berlebihan, dan memulihkan keseimbangan elketrolit. Dialisis peritoneal mungkin merupakan terapi pilihan bagi pasien gagal ginjal yang tidak mampu atau tidak mau menjalani hemodialisis atau transplantasi ginjal. Pasien yang rentan terhadap perubahan cairan, elektrolit dan metabolik yang cepat terjadi pada hemodialisis akan sedikit mengalami hal ini karena dialisis peritoneal kecepatan kerjanya lambat. Oleh karena itu, pasien diabetes atau penyakit kardiovaskuler, pasien lansia dan pasien yang berisiko mengalami efek samping dari pemberian heparin secara sistemik merupakan calon yang sesuai untuk tindakan dialisis peritoneal guna mengatasi gagal ginjalanya. Di samping itu, hipertensi berat, gagal jantung kongestif dan edema pulmoner yang tidak responsif terhadap terapi yang lazim ternyata dapat diatasi dengan terapi dialisis peritoneal. Seperti pada bentuk terapi yang lain, keputusan untuk memulai dialisis peritoneal harus dibuat oleh pasien dan keluarganya setelah berkonsultasi dengan dokter yang merawatnya. 2.5.3 Persiapan bagi Pasien yang Menjalani Dialisis Peritoneal Pasien yang akan menjalani dialisis peritoneal mungkin berada dalam keadaan sakit akut, sehingga memerlukan terapi jangka pendek untuk memperbaiki gangguan yang berat pada status cairan dan elektrolit, atau mungkin akan menjalani salah satu dari banyak terapi seperti yang terjadi pada dialisis peritoneal kontinyu untuk mengatasi gagal ginjla kroniks. Oleh karena itu, proses kesiapan pasien dan keluarganya yang dilaksanakan oleh perawat untuk menghadapi dialisis peritoneal bergantung pada status fisik serta psikologis pasien, tingkat kesadaran, pengalaman sebelumnya dengan terapi dialisis, dan pemahaman serta adptasi pasien dengan prosedur tersebut. Prosedur dialisis peritoneal perlu dijelaskan terlebih dahulu kepada pasien dan surat persetujuan (informed consent) yang sudah ditandatangani harus diperoleh sebelum prosedur tersebut dilaksanakan. Data dasar mengenai tanda-tanda vital, berat bdan dan kadar elektrolit serum dicatat. Pengosongan kandung kemih dan usus diperlukan untuk memperkecil resiko tertusuknya organ-organ internal. Perawat juga harus mengkaji rasa cemas pasien dan meberikan dukungan serta petunjuk mengenai prosedur yang akan dilakukan. Kateter untuk dialisis peritoneal biasanya dilakukan di kamar operasi; hal ini harus dijelaskan kepada pasien dan keluarganya. 2.5.4 Persiapan Peralatan untuk Dialisis Peritoneal Disamping merakit peralatan untuk dialisis peritoneal, perawat harus berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan konsentrasi larutan dialisis yang akan digunakan dan obat-obat yang akan ditambahkan pada dialisis tersebut. Heparin dapat ditambahkan untuk mencegah pembentukan bekuan fibrin yang dapat menyumbat kateter peritoneal. Kalium klorida dapat diresepkan untuk mencegah hipokalemia. Antibiotik bisa ditambahkan untuk mengobati peritonitis. Sebelum penambahan obat-obat ini, larutan dialisat dihangatkan hingga mencapai suhu tubuh untuk mencegah gangguan rasa nyaman serta nyeri abdomen; selain itu, tindakan ini menyebabkan dilatasi pembuluh-pembuluh darah peritoneum sehingga meningkatkan klirens ureum. Larutan yang terlalu dingin akan menimbulkan nyeri serta vasokonstriksi dan menurunkan klirens. Larutan yang digunakan untuk menghangatkan larutan dialisat harus dipantau dengan cermat untuk menjamin tercapainya suhu yang diinginkan. Sesaat sebelum dialisis dimulai, peralatan dan selang untuk dialisis dirakit. Selang tersebut diisi dengan cairan dialisat yang sudah dipersiapkan untuk mengurangi jumlah udara yang masuk ke dalam kateter serta kavum peritoneal, yang dapat menyebabkan gangguan rasa nyaman pada abdomen dan mengganggu penetesan serta pengaliran keluar cairan dialisat tersebut. 2.5.5 Pemasangan Kateter untuk Dialisis Peritoneal Idealnya, kateter peritoneal dipasang dalam kamar operasi untuk mempertahankan asepsis operasi dan memperkecil resiko kontaminasi. Akan tetapi, pada kondisi tertentu, kateter dipasang oleh dokter dalam bangsal perawatan dibawah prosedur asepsis yang ketat. Sebuah kateter stylet dapat digunakan jika dialisis peritoneal tersebut diperkirakan akan dilaksanakan dalam waktu singkat. Sebelum prosedur ini dilakukan, kulit abdomen dipersiapkan larutan dengan larutan antiseptik lokal untuk mengurangi jumlah bakteri pada kulit dan mnegurangi risiko kontaminasi serta infeksi pada lokasi pemasangan kateter. Dokter melakukan penyuntikan infiltrasi preparat anestesi lokal ke dalam kulit dan jaringan subkutan pasien sebelum prosedur pemasangan kateter dilakukan. Insisi kecil atau sebuah tusukan dibuat pada abdomen bagian bawah 3 hingga 5 cm di bawah umbilikus; daerah ini relatif tidak mengandung pembuluh darah besar sehingga perdarahan yang terjadi hanya sedikit. Sebuah trokar (alat berujung tajam) digunakan untuk menusuk peritoneum sementara pasien mengencangkan otot abdomennya dengan cara mengangkat kepala. Kateter disisipkan lewat trokar dan kemudian diatur posisinya. Cairan dialisat yang sudah dipersiapkan diinfuskan ke dalam kavum peritoneal dengan mendorong omentum (lapisan peritoneal yang membentang dari organ-organ abdomen) menjauhi kateter. Sebuah jahitan purse-string dapt dibuat untuk mengikat kateter pada tempatnya. Prosedur . Untuk dialisis peritoneal intermitten, larutan dialisat dibiarkan mengalir dengan bebas ke dalam kavum peritoneal. Bisanya diperlukan waktu 5 hingga 10 menit untuk menginfuskan 2 liter cairan dialisat. Cairan tersebut dibiarkan untuk berada dalam kavum peritoneal selama waktu retensi (dwell time) atau waktu ekulibrasi yang ditentukan dokter; waktu retensi ini diperlukan untuk memungkinkan terjadinya digusi dan osmosis. Difusi molekul kecil sperti ureum dan kreatinin berlangsung 5 hingga 10 menit pertama dari keseluruhan waktu retensi. Pada akhir waktu retensi, klem selang drainase dilepas dan larutan dialisat dibiarkan mengalir keluar dari kavum peritoneal melalui sebuh sistem yang tertutup dengan bantuan gaya berat. Drainase normalnya akan selesai dalam waktu 10 hingga 30 menit, dan cairan drainase ini biasanya berwarna seperti jerami atau tidak berwarna. Cairan tersebut tidak boleh tampak keruh atau berdarah setelah beberapa kali pertukaran yang pertama. Cairan dari botol yang baru kemudian ditambahkan, diinfuskan dan dialirkan keluar. Sebuah proses pertukaran (yang terdiri atas infus larutan dialisat, waktu retensi dan drainase) memerlukan waktu kurang dari satu jam (seperti jumlah waktu yng diperlukan pada pasien sakit akut). Jumlah siklus atau pertukaran dan frekuensinya ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi fisik pasien serta kondisi akut penyakitnya. 2.5.6 Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis Contonuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau dialisis peritoneal mbulatorik kontinyu merupakan suatu bentuk dialisis yang dilakukan pada banyak pasien penyakit renal stadium terminal. Dialisis peritoneal tradisional memerlukan perawat dan teknisi yang terampil untuk melaksanakan prosedur ini. Dialisis peritoneal tradisional dilakukan secara intermiten sehingga diperlukan beberapa tahap yang biasanya berlangsung 6 hingga 48 jam untuk tiap tahap, dan selama pelaksanaan dialisis ini pasien harus berada dalam keadaan imobilisasi. Berbeda dengan dialisis peritoneal tradisional, CAPD bersifat kontinyu dan biasanya dapat dilakukan sendiri. Metode ini bisa dikerjakan di rumah oleh pasien. Kadang-kadang anggota keluarga dilatih agar dapat melaksanakan prosedur tersebut bagi pasien. Tekniknya disesuaikan menurut kebutuhan fisiologik pasien serta keluarganya, dan diperlukan petunjuk yang adekuat untuk menjamin agar mereka merasa aman serta yakin dalam melaksanakannya. Larutan dialisat dialirkan dari botol plastik fleksibel melalui kateter peritoneal permanen yang dikenal sebagai kateter Tenckhoff. Kateter ini dipasang dalam kamar operasi, dan disisipkan ke dalam kavum abdomendan difiksasi dengan bantuan manset dakron yang terpasang pada kateter tersebut. Pertumbuhan jaringan di sekitar manset akan menghasilkan segel yang kedap bakteri. Saluran subkutan (yang panjangnya 5-10 cm) akan memberikan proteksi lebih lanjut terhadap infeksi bakteri. Setelah larutan dialisat diinfuskan ke dalam kavum peritoneal melalui kateter, kantongnya dilipat melalui katetr, kantongnya dilipat dan disisipkan di balik baju pasien selama waktu retensi. Tindakan ini akan memebrikan kebebasan kepada pasien dan mengurangi frekuensi penyambunan serta pelepasan sambungan pada ujung kateter sehingga resiko kontaminasi dan peritonitis dapat dihindari. Pada akhir waktu retensi, larutan dialisat dialirkan keluar dari dalam kavum peritoneal dengan membuka lipatan kantong yang kosong, melepaskan klem dan menempatkan kantong tersebut lebih rendah dari abdomen di dekat lantai. Tindakan ini memungkinkan pengaliran keluar cairan peritoneal dengan bantuan gaya berat. Setelah drainase selesai, larutan yang baru kemudian diinfuskan ke dalam kavum peritoneal dan prosedur di atas diulangi. Satu perangkat selang menghubungkan larutan dialisat dengan kateter. Beberapa sistem selang yang dikenal sebagai disconnect sts memungkinkan kateter untuk diklem dan diputus hubungannya dari selang panjang; sistem ini tampaknya lebih baik bagi citra tubuh pasien. Selang yang menghubungkan kantong dialisat dan kateter tidak boleh sering diganti. Untuk mengurangi resiko peritonitis, perawataan yang cermat harus dilakukan untuk mencegah kontaminasi kateter, cairan atau selang dan terlepasnya kateter tanpa sengaja dari selang tersebut. Kateter harus dilindungi terhadap tindakan manipulasi dan lokasi masuknya kateter ke dalam abdomen memerlukan perawatan yang cermat sesuai protokol standar. Keberhasilan CAPD tergantung pada pemeliharaan kateter peritoneal permanen. Masalah kateter yang dapat terjadi mencakup obstruksi satu arah, tercabutnya kateter dari panggul, terbelitnya kateter dengan omnetum, perembesdan cairan dialisat, infeksi pada lokasi keluar, pembentukan bekuan fibrin dan kontaminasi bakteri/jamur. 2.5.7 Prinsip-prinsip CAPD CAPD bekerja berdasarkan prinsip-prinsip yang sama seperti pada bentuk dialisis lainnya, yaitu: difusi dan osmosis. Namun, karena CAPD merupakan terapi dialisis yang kontinyu, kadar produk libah nitrigen dalm serum berada dalam keadaan yang stabil. Nilainya bergantung pada fungsi ginjal yang masih tersisa, volume dialisat setiap hari, dan kecepatan produk limbah tersebut diproduksi. Fluktuasi hasil-hasil laboraotorium ini pada CAPD tidak begitu ekstrim jika dibandingkan dengan dialisis peritoneal intermiten karena proses dialisis berlangsung secara konstan. Kadar elektrolit biasanya teteap berada dalam kisaran normal. Semakin lama waktu retensi, klirens molekul yang berukuran sedang semakin baik. Diperkirakan molekul-molekul ini merupakan toksin uremik yang signifikan. Dengan CAPD klirens molekul ini meningkat. Substansi dengan berat molekul rendah, seperti ureum, akan berdifusi lebih cepat dalam proses dialisis daripda molekul berukuran sedang, meskipun pengeluarannya selama CAPD lebih lambat daripada hemodialisis. Pengeluaran cairan yang berlebihan pada saat dialisis peritoneal dicapai dengan menggunakan larutan dialisat hipertonik yang memiliki konsentrasi glukosa yang tinggi sehingga tercipta gradien osmotik. Larutan glukosa 1,5%, 2,5%, dan 4,25% harus tersedia dengan beberapa ukuran volume, yaitu mulai dari 500 ml hingga 3000 ml, sehingga memungkinkan pemilihan dialisat yang sesuai dengan toleransi, ukuran tubuh dan kebutuhan fisiologik pasien. Semakin tinggi konsentrasi glukosa, semakin besar gradien osmotik dan semakin banyak air yang dikeluarkan. Pasien harus diajarkan cara memilih larutan glukosa yang tepat berdasarkan asupan makanannya. Pertukaran biasanya dilakukan empat kali sehari. Teknik ini berlangsung secara kontinyu selama 24 jam perhari dan dilakukan 7 hari dalam seminggu. Pasien melaksanakan pertukaran dengan interval yang didistribusikan di sepanjang hari (misalnya, pada pukul 08.00 pagi, 12.00 siang hari. 05.00 sore dan 10.00 malam) dan dapat tidur pada malam harinya. Setiap pertukaran biasanya memerlukan waktu 30 hingga 60 menit atau lebih; lamanya proses ini tergantung lamanya waktu retensi yang ditentukan oleh dokter. Lama waktu penukaran terdiri atas 5- atau 10- menit periode infus (pemasukan cairan dialisat), 20 –menit periode drainase (pengeluaran cairan dialisat) dan waktu retensi selama 10-menit, 30-menit atau lebih. 2.5.8 Indikasi CAPD merupakan terapi pilihan bagi sebagian besar pasien yang ingin melaksanakan dialisis sendiri di rumah. Indikasi CAPD adalah pasien-pasien yang menjalani hemodialisis rumatan (maintenance) atau hemodialisis kronis yang mempunyai masalah dengancara terapi yang sekarang, seperti gangguan fungsi atau kegagalan alat untuk akses vaskuler, rasa haus yang berlebihan, hipertensi berat, sakit kepala pascadialisis dan anemia berat yang memerlukan transfusi. Pasien yang sedang menunggu noperasi pengcangkokan ginjal dapat dipertahankan usianya dengan cara CAPD. Penyakit ginjal stadium terminal yang terjadi akibat penyakit diabetes sering dipertimbangkan sebagai indikasi untuk dilakukan CAPD karena hipertensi, uremia dan hiperglikemia lebih mudah diatasi dengan cara ini daripada dengan hemodialisis. Pasien lansia umumnya dapat memanfaatkan teknik CAPD dengan baik jika keluarga atau masyarakat memberikan dukungan baik jika keluarga atau masyarakat memberikan dukungan. Pasien, yang dapat turut aktif dalam penanganan penyakitnya, menginginkan lebih banyak kebebasan dan memiliki motivasi serta keinginan untuk melaksanakan penanganan yang diperlukan, sangat sesuai denga terapi CAPD. Sistem dukungan dari keluarga di samping kemampuan pasien untuk melaksanakan CAPD harus dipertimbangkan ketika kita memilih bentuk terapi. Pasien memilih CAPD agar bebas dari ketergantungannya pada mesin, mengontrol sendiri aktivitasnya sehari-hari, menghindari pembatasan makanan, meningkatkan asupan cairan, menaikkan nilai hematokrit serum, memperbaiki kontrol tekanan darah, bebas dari keharusan pemasangan jarum infus (venipuncture), dan merasa sehat secara umum. Meskipun CAPD memberikan kesan bahwa pasein tampak bebas, terapi dialisis ini berlangsung secara kontinyu dan dengan demikian pasien harus menjalani dialisis selama 24 jam per hari tujuh hari dalam seminggu. Sebagian pasien mersakan cara ini juga membatasi kebebasannya dan memilih terapi hemodialisis yang lebih bersifat intermiten. 2.5.8 Kontraindikasi Kontraindikasi CAPD mencakup perlekatan akibat pembedahan atau penyakit inflamasi sistemik yang dialami sebelumnya. Perlekatan akan mengurangi klirens solut. Kontraindikasi lain adalah nyeri punggung kronis yang terjadi rekuren disertai riwayat kelainan pada diskus intervertebralis yang dapt diperburuk dengan adanya cairan dialisat dalam abdomen yang kontinyu. Adanya riwayat kolostomi, ileostomi, nefrostomi atau idela conduit dapat meningkatkan resiko peritonitis, meskipun semua tindakan operasi tersebut bukan kontraindikasi absolut untuk CAPD. Pasien yang mendapatkan obat-obat imunosupresif akan mengalami komplikasi akibat kesembuhan luka yang buruk pada lokasi pemasangan kateter. Demikian pula, diverkulitis merupakan kontraindikasi mengingat CAPD pernah disertai dengan ruptur divertikulum. Pasien dengan artritis atau kekuatan tangan yang menurun mungkin memerlukan bantuan dalam melaksanakan terapi pertukaran ini, meskipun demikian, pasien tunanetra atau menderita gangguan penglihatan dan memiliki keterbatasan fisik lainnya ternyata dapat belajr dengan hasil baik dalam melaksanakan sendiri terapi CAPD. 2.5.8 Komplikasi CAPD bukan teknik dialisis tanpa komplikasi. Kebanyakan komplikasi bersifat ringan, meskipun beberapa diantaranya jika tidak diatasi dapat membawa akibat yang serius pada pasien. Peritonitis. Peritonitis merupakan komplikasi yang paling sering dijumpai dan paling serius; komlikasi ini terjadi pada 60% hingga 80% pasien yang menjalani dialisis peritoneal. Sebagian besar kejadian peritonitis disebabkan oleh kontaminasi Staphylococcus epidermis yang bersifat aksidental. Kejadian ini mengakibatkan gejala ringan dan prognosisnya baik; meskipun demikian, peritonitis akibat Sthapylococcus aureus menghasilkan angka morbiditas yang lebih tinggi, mempunya prognosis yang lebih serius dan berjalan lebih lama. Mikroorganisme Gram-negatif dapat berasal dari dalam usus, khususnya bila terdapat lebih dari satu macam mikroorganisme tersebut bersifat anaerob. Manifestasi peritonitis mencakup cairan drainase (effluent) dialisat yang keruh dan nyeri abdomen yang difus. Hipotensi dan tanda-tanda syok lainnya dapat terjadi jika S. Aureus merupakan mikroorganisme penyebab peritonitis. Pemeriksaan cairan drainase dilakukan untuk penghitungan jumlah sel, pewarnaan Gram dan pemeriksaan kultur untuk mengenali mikroorganisme serta mengarahkan terapi. Peritonitis ditangani di rumah sakit jika psien berada dalam keadaan sakit parah dan tidak mungkin untuk melaksanakan terapi pertukaran di rumah. Biasanya pasien menjalani dialisis peritoneal intermiten selama 48 jam atau lebih, atau terapi dialisis ini dihentikan sepenuhnya sementara pasien mendapatkan suntikan antibiotik. Penghentian terapi dialisis selama beberapa hari juga meningkat fagositosis oleh sel-sel makrofag pasien; ada bukti yang memperlihatkan bahwa keberadaan cairan dialisat dalam kavum peritoneal dapat menghambat pons sel-sel makrofag terhadap infeksi. Jika gejalanya ringan, pasien ditangai secara rawat jalan. Antiniotik biasanya ditambahkan ke dalam cairan dialisat dan juga diberikan per oral selama 10 hari. Biasanya infeksi akan menghilang dalam waktu 2 hingga 4 hari. Untuk mengamankan fungsi ginjal yang masih tersisa, dosis antibiotik yang mungkin nefrotoksik harus ditentukan dengan sangat cermat. Intervensi bedah mungkin diperlukan jika peritonitis tersebut terjadi akibat kebocoran dari usus. Pada infeksi persisten di tempat keluarnya kateter (yang biasanya disebabkan oleh S. aureus), pelepasan kateter permanen diperlukan untuk mencegah terjadinya peritonitis. Pada pasien-pasien peritonitis, kateter peritoneal harus dilepas untuk menghilangkan infeksi akibat jamur. Peritonitis disertai tiga kali hasil kultur cairan peritoneal yang positif juga merupakan indikasi untuk melepaskan kateter. Hemodialisis dipertahankan selama sekitar 1 bulan sebelum dilakukan pemasangan kateter yang baru. Dengan mengabaikan mikroorganisme yang menjadi penyebabnya, pasien peritonitis akan kehilangan protein melalui peritoneum dalam jumlah besar; malnutrisi akut dan kelambatan penyembuhan dapat terjadi sebagai akibatnya. Oleh karena itu, pengkajian dan terapi yang segera terhadap infeksi ini harus mendapatkan perhatian penuh. Kebocoran. Kebocoran cairan dialisat melalui luka insisi atau luka pada pemasangan kateter dapat segera diketahui sesudah kateter dipasang. Biasanya kebocoran tersebut berhenti spontan jika terapi dialisis ditunda selama beberapa hari untuk menyembuhkan luka insisi dan tempat keluarnya kateter. Selama periode ini, faktor-faktor yang dapat memperlambat proses kesembuhan seperti aktivitas abdomen yang tidak semestinya atau mengejan pada saat buang air besar harus dikurangi. Kebocoran melalui tempat pemasangan kateter atau ke dalam dinding abdomen dapat terjadi spontan beberapa bulan atau tahun setelah pemasangan kateter tersebut. Kebocoran sering dapat dihindari dengan memulai infus cairan dialisat dengan volume kecil (100-200 ml) dan kemudian secara bertahap meningkatkan volume tersebut hingga mencapai 2000 ml. Perdarahan. Cairan drainase (effuent) dialisat yang mengandung darah kadang-kadang dapat terlihat, khususnya pada pasien wanita yang sedang haid. (cairan hipertonik menarik darah dari uterus lewat orifisium tuba falopi yang bermuara ke dalam kavum peritoneal). Kejadian ini sering dijumpai selama beberapa kali pertukaran pertama mengingat sebagian darah akibat prosedur tersebut tetap berada dalam rongga abdomen. Pada banyak kasus penyebab terjadinya perdarahan tidak ditemukan. Pergeseran katteter dari pelvis kadang-kadang disertai dengan perdarahan. Sebagian pasien memperlihatkan cairan drainase dialisat yang berdarah sesudah ia manjalani pemeriksaan enema atau mengalami trauma ringan. Perdarahan selalu berhenti setelah satu atau dua hari sehingga tidak memerlukan intervensi yang khusus. Terapi pertukaran yang lebih sering dilakukan selama waktu ini mungkin diperlukan untuk emncegah obstruksi kateter oleh bekuan darah. Komplikasi Lain. Komplikasi lain mencakup hernia abdomen yang mungkin terjadi akibat peningkatan tekanan intra abdomen yang terus menerus. Tipe hernia yang pernah terjadi adalah tipe insisional, inguinal, diafragmatik dan umbilikal. Tekanan intra abdomen yang secara persisten meningkat juga akan memeprburuk gejala hernia hiatus dan henorhoid. Hipertrigliseridemia sering dijumpai padam pasien-pasie yang mengalami CAPD sehingga timbul kesan bahwa terapi ini dapat mempermudah aterogenesis. Penyakit kardiovaskuler tetap merupakan penyebab utama kematian pada populasi pasien ini. Nyeri punggung bawah dan anoreksia akibat adanya cairan dalam rongga abdomen di samping rasa manis yang selalu terasa pada indera pengecap serta berkaitan dengan absorpsi glukosa dapt pula terjadi pada terapi CAPD. Masalah mekanis dapat pula terjadi dan mengganggu pemasukkan atau drainase cairan dialisat. Pembentukan bekuan kateter peritoneal dan konstipasi merupakan faktor yang turut menimbulkan masalah ini. Gangguan Citra Tubuh dan Seksualitas. Meskipun CAPD telah meberikan kebebasan yang lebih besar dan hak untuk mengontrol sendiri terapinya kepada pasien penyakit renal stadium terminal, namun terpai ini bukan tanpa masalah. Pasien sering mengalami perubahan citra tubuh dengan adanya kateter abdomen dan kantong penampung serta selang di badannya. Ukuran pinggang akan meningkat sebanyak 2,5 cm hingga 5 cm (1 hingga 2 inci) atau lebih bila terdapat cairan abdomen, dan keadaan ini akan memperngaruhi pasien dalam memilih pakaiannya selain menimbulkan perasaan “menjadi gemuk”. Citra tubuh dapat sangat mengganggu sehingga pasien tidak ingin lagi melihat atau merawat kateter selama berhari-hari atau berminggu-minggu. Mengajak pasien untu berbicara dengan pasien lain yang memiliki sikap positif dapat membantu. Sehingga pasien tampaknya tidak mempunyai masalah psikologis yang berhubungan dengan kateter; mereka menganggap kateter tersebut sebagai selang kehidupannya atau sebagai alat yang memperthankan kehidupannya. Pasien kadang-kadang merasa harus mengerjakan terapi pertukaran sepanjang hari dan tidak lagi memiliki waktu senggang, khusunya dalam masa awal-awal terapi CAPD. Mereka mungkin mengalami depresi karena merasakan disibukkan dengan tanggung jawab untuk merawat dirinya sendiri. Seksualitas dan fungsi seksual dapat berubah; pasien beserta pasangannya mungkin enggan untuk melakukan aktivitas seksual, dan keengganan ini sebagian timbul karena secara psikologis, kateter ,enjadi “penghalang” aktivitas tersebut. Keberadaan 2 liter cairan dialisat, kateter peritoneal dan kantong drainase dapat mengganggu fungsi seksual serta cairan tubuh pada pasien-pasien ini. 2.5.9 Pendidikan Pasien Pasien diberi pengajaran untuk melaksanakan sendiri CAPD setelah kondisinya secara medis dianggap stabil. Pelajaran biasanya dapat diberikan secara rawat jalan atau rawat inap. Biasanya latihan CAPD memerlukan waktu 5 hari hingga 2 minggu. 1. Program Latian Selama periode latihan, pasien diajakarkan tentang : a) Materi anatomi dan fisiologi dasar ginjal, proses penyakitnya. b) Prosedur terapi pertukaran c) Komplikasi yang mungkin terjadi serta respons yang tepat terhadap komplikasi tersebut d) Pemeriksaan tanda-tanda vital e) Perawatan kateter f) Teknik membasuh tangan yang baik g) Data yang paling penting, siapa yang harus dihubungi jika timbul suatu masalah serta kapan menghubunginya Karena konsekuensi peritonitis, pasien dan keluarganya harus mendapatkan pelajaran tentang tanda-tanda peritonitis, tindakan preventif dan strategi penanganan dini. 2. Terapi Diet Perawat, ahli gizi dan pekerja sosial harus menemui pasien beserta keluarganya selama periode latihan pada saat-saat tertentu sedudahnya. Informasi dan instruksi tentang diet harus diberikan. Meskipun diet pada pasien dengan terapu CAPD merupakan diet bebas, ada beberapa rekomendasi yang perlu disampaikan. Karena protein akan hilang pada dialisis peritoneal kontinyu, maka pasien dianjurkan untuk : a) Mengkonsumsi makanan yang tinggi protein dengan gizi yang baik dan seimbang. b) Meningkatkan asupan serat setiap hari untuk membantu mencegah konstipasi yang dapat menghambat aliran cairan dialisat ke dalam atau luar kavum peritoneal. c) Mengurangi asupan karbohidratnya untuk menghindari kenaikan berat badan yang berlebihan. d) Biasanya tidak diperlukan pemabtasan asupan kalium, natrium ataupun cairan. 3. Asupan Cairan Pasien bisanya kehilangan 2 L cairan lebih atau di atas 8 L cairan dialisat yang diinfuskan ke dalam rongga abdomen selama periode 24 jam; keadaan ini memngkinkan asupan cairan yang normal bahkan pada pasien yang anefrik (pasien tanpa ginjal). 4. Perawatan Tindak-lanjut Pasien diajari menurut kemampuannya sendiri dan tingkat pengetahuannya untuk belajar; banyaknya materi yang diberikan harus dapat dipahami pasien tanpa merasa terganggu atau terlalu dijejalkan informasi yang berlebihan. Perawatan tindaklanjut melalui telepon, kunjungna pasien ke klinik rawat jalan serta perawattan di rumah yang kontinyu akan membantu pasien untuk beralih kepada perawatan di rumah dan berperan aktif dalam perawatan kesehatannya. a) Mengingatkan kembali teknik aseptik untuk menghindari infeksi. b) Mengganti selang jika diperlukan c) Mengevaluasi hasil pemeriksaan kimia darah d) Memberikan umpan balik e) Memberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan pengajaran tambahan. 2.5.10 Pertimbangan Psikologi CAPD tidak selalu sesuai bagi semua penderita penyakit renal stadium akhir, tetapi terapi tersebut merupakan bentuk yang dapat dilakukan oleh pasien yang hendak melakukan perawatan mandiri dan ingin merasa bebas dari mesin pencuci darah serta jadwal pelaksanaannya yang ketat. Jika pasien ingin melaksanakan pertukaran sperti yang diajarkan dan mampu menyesuaikan terapi tersebut dengan kegiatan rutinnya, maka ia dapat menjalani kehidupan yang relatif normal dan merasakan manfaat serta keberhasilan CAPD. Pasien sering melaporkan bahwa kehidupannya menjadi lebih baik, dan memiliki energi yang lebih besar dan merasa lebih sehat dan normal dengan terapi CAPD. Namun, kita tidak boleh mendorong semua pasien untuk menjalani CAPD. Sebaliknya, pasien harus dibantu untuk menemukan terapi yang paling sesuai dengan cara hidupnya; denga terapi yang tepat, pasien dapat mencapai kondisi kesehatan yang optimal. 2.5.11 Perawatan Pasien yang Menjalani Dialisis di Rumah Sakit Pasien yang menjani hemodialisis atau dialisis peritoneal mungkin dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan terhadap komplikasi yang berkaitan dengan kelainan renal yang mendasari atau dengan terapi dialisis itu sendiri. Di samping itu, pasien mungkin memerlukan perawatan rumah sakit untuk mengatasi masalah kesehatan yang tidak berhubungan dengan disfungsi renal atau pengobatannya. Melindungi Akses Vaskuler. Kalau seorang pasien yang menjalani hemodialisis harus dirawat di rumah sakit untuk alasan apa saja, akses vaskuler yang dibuat untuk keperluan terapi dialisis harus dirawat untuk melindungi terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan. Oleh karena itu mengkaji patensinya sementara tindakan penjagaan diperlukan untuk memastikan agar ekstremitas dengan akses vaskuler tersebut tidak digunakan untuk pengukuran tekanan darah atau pengambilan spesimen darah. Suara bising (bruit) atau getaran (thrill) di daerah akses vena harus dievaluasi paling sedikit setiap 8 jam sekali. Jika getaran tersebut tidak teraba atau suara bising tidak terdengar, keadaan ini dapat menunjukkan adanya pembekuan darah dalam akses pembuluh darah tersebut. Pembekuan darah dapat terjadi jika pasien menderita infeksi pada bagian tubuh lain yang akan menyebabkan viskositas darah meningkat, atau bila tekanan darahnya turun. Apabila aliran darah yang melewati akses ittu berkurang karena sebab apapun (hipotensi, pemasangan manset tensimeter atau torniket), darah akan mengalami bendungan dan bekuan akan terbentuk dalam akses vaskuler. Lokasi akses sendiri dapat terinfeksi sehingga harus dibasuh dan jika perlu ditutup dengan kasa steril. Pasien ginjal lebih mudah menderita infeksi, sehingga tindakan unttuk mengendalikan infeksi harus menggunakan berbagai cara. Penjagaan terhadap Terapi IV. Apabila terapi intravena atau infus diperlukan, kecepatan tetesannya harus lambat dan dikontrol ketat dengan pompa infus volumetrik. Karena pasien ini tidak dapat mengekskresikan air, maka penggunaan infus yang tidah hati-hati dapat mengakibatkan edema paru. Gejala Uremia. Dengan bertumpuknya produk akhir metabolisme. Gejala uremia akan bertambah parah. Pasien dengan laju metabolik yang meningkat (pasien yang mendapatkan obat-obat steroid, menderita infeksi atau kelainan perdarahan, dan yang menjalani pembedahan) lebih cepat mengalami penumpukan sampah metabolik serta dapat memerlukan dialisis setiap hari. Pasien-pasien ini kemungkinan besar akan lebih cepat mengalami komplikasi. Komplikasi Jantung dan Pernapasan. Pemeriksaan jantung dan pernapasan harus sering dilakukan. Bertumpuknya cairan akan menyebabkan gagal jantung kongestif dan edema paru. Suara ronkhi pada dasar paru dapat menunjukkan edema paru. Perikarditis dapat terjadi akibat akumulasi toksin uremia. Jika tidak terdeteksi dan tidak segera diatasi, komplikasi yang serius ini dapat berlanjut menjadi efusi perikardial dan tamponade jantung. Perikarditis akan terdeteksi dengan timbulnya keluhan nyeri dada substernal yang dilaporkan pasien (jika pasien dapat berkomunikasi), panas intensitas rendah (sering terlewatkan) dan terdengar bising gesekan perikardium (pericardial friction rub) pulsus paradoksus (penurunan tekanan darah yang melebihi 10 mmHg pada saat inspirasi) sering dijumpai. Apabila perikarditis berkembang menjadi efusi, bising gesekan akan terdengar, suara jantung menjadi jauh dan tidak jelas. Gelombang EKG memperlihatkan voltase yang sangat rendah. Efusi dapat berkembang menjadi tamponade jantung dan mengakibatkan kematian yang tampak dengan adanya penyempitan tekanan dan nadi dan lemah atau tidak adanya suara jantung, nyeri seperti diremukkan pada dada (crushing chest pain), dispnu dan hipotensi. Meskipun perikarditis, efusi perikardial dan tamponade jantung dapat terdeteksi melalui foto sinar-x, ketiga keadaan ini harus dapat diketahui melalui keperawatan yang teliti. Mengingat makna kliniknya yang penting, pemeriksaan pasien untuk mengkaji risiko terjadinya komplikasi jantung merupakan prioritas. Masalah Elektrolit dan Diet. Perubahan elektroliot sering terjadi dan perubahan kadar kalium meruapakan peristiwa yang paling fatal. Semua larutan infus yang akan diberikan harus dievaluasi kandungan elektrolitnya sementara hasil pemeriksaan laboratorium darah dikaji setiap hari. Asupan makanan pasien juga harus dipantau agar tidak melebihi ketentuan diet. Rasa frustasi pasien yang berhubungan dengan pembatasan makanan sering meningkat jika makanan yang disediakan rumah sakit tidak menimbulkan selera makan; keadaan ini dapat membuat pasien tidak mematuhi diet dan mengakibatkan hiperkalemia. Gangguan Rasa Nyaman dan Nyeri. Komplikasi seperti pruritus dan rasa nyeri terjadi sekunder akibat neuropati harus diatasi. Preparat antihistamin dan analgesik dapat memberikan menurut resep medik. Meskipun demikian, karena eliminasi metabolit obat tidak terjadi melalui ekskresi renal tetapi melalui dialisis, dosis pemberian obat-obatan tersebut sering memerlukan penyesuaian. Hipertensi.Hipertensi pada gagal ginjal umunya dijumpai dan sebagian terjadi akibat sekresi renin yang berlebihan. Banyak pasien dialisis mendapatkan terapi antihipertensi tertentu dan memerlukan informasi yang intensif mengenai tujuan terapi ini serta efek samping yang dapat ditimbulkan. Cara pendekatan “coba-coba” yang mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi preparat antihipertensi yang paling efektif dan menentukan besar takarannya dapat membingungkan serta membuat pasien khawatir bila tidak dijelaskan terlebih dahulu. Pemberian preparat antihipertensi harus dihentikan pada saat dialisis untuk menghindari hipotensi yang disebabkan oleh kombinasi efek dialisis dan obat. Risiko Infeksi. Penderita gagal ginjal stadium akhir biasanya memiliki jumlah sel darah putih yang rendah (dan daya fagositnya menurun), jumlah sel darah merah yang rendah (anemia) dan gangguan fungsi trombosit. Ketiga keadaan ini akan meningkatkan risiko terjadinya infeksi dan potensial untuk timbulnya perdarahan bahkan pada trauma yang ringan. Pengendalian infeksi merupakan tindakan infeksi yang tinggi. Infeksi pada lokasi akses vaskuler dan pneumonia sering terjadi. Perawatan Tempat Pemasangan Kateter. Pasien yang menjalani terapi CAPD (dialisis peritoneal mabulatorik yang kontinyu) biasanya sudah memahami cara merawat tempat pemasangan kateter, namun selama pasien masih dirawat dirumah sakit maka hal ini merupakan kesempatan kateter yang dianjurkan dan memperbaiki setiap kesalahpahaman atau penyimpangan dari teknik perwatan yang benar. Pertimbangan Medikasi. Obat-obatan yang diresepkan dokter untuk setiap pasien dialisis harus dipantau dengan ketat agar obat-obat toksik bagi ginjal dan mengancam fungsi ginjal yang masih tersisa dapat dihindari. Semua pemeberian obat harus dipantau dan perubahan dosis diperlukan untuk mencegah efek toksik atau kelabihan dosis pada ginjal mengingat fungsi ginjal sudah terganggu. Perhatian harus diberikan untuk mengevaluasi semua permasalahan dan gejala yang dilaporkan pasien tanpa menganggapnya sebagai hal yang berkaitan dengan gagal ginjal atau dengan kenyataannya bahwa pasien sedang menjalani dialisis. 2.6 Asuhan Keperawatan 2.6.1 Asuhan Keperawatan Hemodialisa Proses Hemodialisa Suatu mesin hemodialisa yang digunakan untuk tindakan hemodialisa berfungsi mempersiapkan cairan dialisa (dialisat), mengalirkan dialisat dan aliran darah melewati suatu membran semipermeabel, dan memantau fungsinya termasuk dialisat dan sirkuit darah korporeal. Pemberian heparin melengkapi antikoagulasi sistemik. Darah dan dialisat dialirkan pada sisi yang berlawanan untuk memperoleh efisiensi maksimal dari pemindahan larutan. Komposisi dialisat, karakteristik dan ukuran membran dalam alat dialisa, dan kecepatan aliran darah dan larutan mempengaruhi pemindahan larutan (Tisher & Wilcox, 1997). Dalam proses hemodialisa diperlukan suatu mesin hemodialisa dan suatu saringan sebagai ginjal tiruan yang disebut dializer, yang digunakan untuk menyaring dan membersihkan darah dari ureum, kreatinin dan zat-zat sisa metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh. Untuk melaksanakan hemodialisa diperlukan akses vaskuler sebagai tempat suplai dari darah yang akan masuk ke dalam mesin hemodialisa (NKF, 2006). Suatu mesin ginjal buatan atau hemodializer terdiri dari membran semipermeabel yang terdiri dari dua bagian, bagian untuk darah dan bagian lain untuk dialisat. Darah mengalir dari arah yang berlawanan dengan arah darah ataupun dalam arah yang sama dengan arah aliran darah. Dializer merupakan sebuah hollow fiber atau capillary dializer yang terdiri dari ribuan serabut kapiler halus yang tersusun pararel. Darah mengalir melalui bagian tengah tabung-tabung kecil ini, dan cairan dialisat membasahi bagian luarnya. Dializer ini sangat kecil dan kompak karena memiliki permukaan yang luas akibat adanya banyak tabung kapiler (Price & Wilson, 1995). Menurut Corwin (2000) hemodialisa adalah dialisa yang dilakukan di luar tubuh. Selama hemodialisa darah dikeluarkan dari tubuh melalui sebuah kateter masuk ke dalam sebuah mesin yang dihubungkan dengan sebuah membran semipermeabel (dializer) yang terdiri dari dua ruangan. Satu ruangan dialirkan darah dan ruangan yang lain dialirkan dialisat, sehingga keduanya terjadi difusi. Setelah darah selesai dilakukan pembersihan oleh dializer darah dikembalikan ke dalam tubuh melalui arterio venosa shunt (AV-shunt). Selanjutnya Price dan Wilson (1995) juga menyebutkan bahwa suatu sistem dialisa terdiri dari dua sirkuit, satu untuk darah dan satu lagi untuk cairan dialisa. Darah mengalir dari pasien melalui tabung plastik (jalur arteri/blood line), melalui dializer hollow fiber dan kembali ke pasien melalui jalur vena. Cairan dialisa membentuk saluran kedua. Air kran difiltrasi dan dihangatkan sampai sesuai dengan suhu tubuh, kemudian dicampur dengan konsentrat dengan perantaraan pompa pengatur, sehingga terbentuk dialisat atau bak cairan dialisa. Dialisat kemudian dimasukan ke dalam dializer, dimana cairan akan mengalir di luar serabut berongga sebelum keluar melalui drainase. Keseimbangan antara darah dan dialisat terjadi sepanjang membran semipermeabel dari hemodializer melalui proses difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi. Ultrafiltrasi terutama dicapai dengan membuat perbedaan tekanan hidrostatik antara darah dengan dialisat. Perbedaaan tekanan hidrostatik dapat dicapai dengan meningkatkan tekanan positif di dalam kompartemen darah dializer yaitu dengan meningkatkan resistensi terhadap aliran vena, atau dengan menimbulkan efek vakum dalam ruang dialisat dengan memainkan pengatur tekanan negatif. Perbedaaan tekanan hidrostatik diantara membran dialisa juga meningkatkan kecepatan difusi solut. Sirkuit darah pada sistem dialisa dilengkapi dengan larutan garam atau NaCl 0,9 %, sebelum dihubungkan dengan sirkulasi penderita. Tekanan darah pasien mungkin cukup untuk mengalirkan darah melalui sirkuit ekstrakorporeal (di luar tubuh), atau mungkin juga memerlukan pompa darah untuk membantu aliran dengan quick blood (QB) (sekitar 200 sampai 400 ml/menit) merupakan aliran kecepatan yang baik. Heparin secara terus-menerus dimasukkan pada jalur arteri melalui infus lambat untuk mencegah pembekuan darah. Perangkap bekuan darah atau gelembung udara dalam jalur vena akan menghalangi udara atau bekuan darah kembali ke dalam aliran darah pasien. Untuk menjamin keamanan pasien, maka hemodializer modern dilengkapi dengan monitor-monitor yang memiliki alarm untuk berbagai parameter (Price & Wilson, 1995). Menurut PERNEFRI (2003) waktu atau lamanya hemodialisa disesuaikan dengan kebutuhan individu. Tiap hemodialisa dilakukan 4 – 5 jam dengan frekuensi 2 kali seminggu. Hemodialisa idealnya dilakukan 10 – 15 jam/minggu dengan QB 200–300 mL/menit. Sedangkan menurut Corwin (2000) hemodialisa memerlukan waktu 3 – 5 jam dan dilakukan 3 kali seminggu. Pada akhir interval 2 – 3 hari diantara hemodialisa, keseimbangan garam, air, dan pH sudah tidak normal lagi. Hemodialisa ikut berperan menyebabkan anemia karena sebagian sel darah merah rusak dalam proses hemodialisa. 1. Pengkajian Keluhan utama pada pasien hemodialisa adalah a. sindrom uremia b. Mual, muntah, perdarahan GI. c. Pusing, nafas kusmaul, koma. d. Perikarditis, cardiar aritmia e. Edema, gagal jantung, edema paru f. Hipertensi Manifestasi klinik a. Kulit : kulit kekuningan, pucat, kering dan bersisik, pruritus atau gatal-gatal b. Kuku ; kuku tipis dan rapuh c. Rambut : kering dan rapuh d. Oral ; halitosis / faktor uremic, perdarahan gusi e. Lambung ; mual, muntah, anoreksia, gastritis ulceration. f. Pulmonary ; uremic “lung” atau pneumonia g. Asam basa ; asidosis metabolic h. Neurologic ; letih, sakit kepala, gangguan tidur, gangguan otot : pegal i. Hematologi : perdarahan 2. Diagnosa Kepererawatan dan Intervensi Keperawatan : A. Nyeri B/D Insisi Operatif, Pengaturan Posisi Dan Peregangan Otot Selama Proses Hemodialisis Tujuan : Nyeri Berkurang Intervensi Rasional 1. Kaji tingkat rasa nyeri pasien 2. Berikan analgesik 3. Lakukan kompres hangat 4. Fiksasi luka insisi 5. Bantu dan dorong ambulasi dini 1. Memberikan data dasar untuk mengevaluasi keberhasilan strategi dalam meredakian nyeri Rasional 1. mengontrol dan menentukan skala nyeri pasien 2. Meningkatkan penurangn rasa nyeri 3. Meningkatkan relaksasi dan peredaan nyeri otot 4. Meminimalkan tarikan atau tegangan pada luka insisi dan memberikan dukungan kepada pasien 5. Memudahkan dilanjutkannya kembali latihan aktivitas otot B. Cemas B/D Perubahan Pada Fungsi Urinarius Tujuan : Pengurangan Rasa Takut Dan Cemas Intervensi Rasional 1. Kaji tingkat kecemasan pasien 2. Kaji pengetahuan pasien tentang prosedur hemodialisis 3. Dorong pasien untuk membagi perasaanya 1. Memberikan data dasar untuk tindak lanjut 2. Memberikan data dasar untuk pengjaran selanjutnya 3. Memudahkan pasien untuk menerima dukungan bersama dan mengurangi perasaan terisolasi C. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan mekanisme pengaturan melemah a. Electrolit and acid base balance b. Fluid balance c. Hydration NIC Fluid management a. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat b. Pasang urin kateter jika diperlukan c. Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin ) d. Monitor status hemodinamik termasuk CVP, MAP, PAP, dan PCWP e. Monitor vital sign f. Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan (cracles, CVP , edema, distensi vena leher, asites) g. Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian h. Monitor status nutrisi i. Berikan diuretik sesuai interuksi j. Batasi masukan cairan pada keadaan hiponatrermi dilusi dengan serum Na < 130 mEq/l k. Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk Fluid Monitoring a. Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminasi b. Tentukan kemungkinan faktor resiko dari ketidak seimbangan cairan (Hipertermia, terapi diuretik, kelainan renal, gagal jantung, diaporesis, disfungsi hati, dll ) c. Monitor berat badan d. Monitor serum dan elektrolit urine e. Monitor serum dan osmilalitas urine f. Monitor BP, HR, dan RR g. Monitor tekanan darah orthostatik dan perubahan irama jantung h. Monitor parameter hemodinamik infasif i. Catat secara akutar intake dan output j. Monitor adanya distensi leher, rinchi, eodem perifer dan penambahan BB k. Monitor tanda dan gejala dari odema l. Beri obat yang dapat meningkatkan output urin Hemodialysis therapy a. Ukur berat badan sebelum hemodialisa b. Monitor vital sign setiap jam atau bila diperlukan c. Lakukan program ultrafiltration goal sesuai kenaikan berat badan d. Monitor komplikasi yang mungkin terjadi selama hemodialisa e. Monitor tanda dan gejala kelebihan cairan f. Monitor tanda dan gejala kekurangan cairan g. Ukur berat badan setelah hemodialisa D. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau mengabsorpsi zat-zat gizi b.d faktor biologis, psikologis atau ekonomi. a. Nutritional Status : food and Fluid Intake b. Nutritional Status : nutrient Intake c. Weight control NIC : Nutrition Management d. Kaji adanya alergi makanan e. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien. f. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe g. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C h. Berikan substansi gula i. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi j. Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi) k. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian. l. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori m. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi. n. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan o. Nutrition Monitoring a. BB pasien dalam batas normal b. Monitor adanya penurunan berat badan c. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan d. Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan e. Monitor lingkungan selama makan f. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan g. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi h. Monitor turgor kulit i. Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah j. Monitor mual dan muntah k. Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht l. Monitor makanan kesukaan m. Monitor pertumbuhan dan perkembangan n. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva o. Monitor kalori dan intake nuntrisi p. Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral. q. Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet Peradarahan Perawat dapat menangani dan meminimalkan terjadinya perdarahan. Kontrol perdarahan a. Kaji keadaan luka insisi penusukan jarum AV Fistula hemoidalisa b. Jaga posisi jarum tetap aman dan paten. c. Monitor vital sign d. Jelaskan tentang tanda dan gejala perdarahan e. Monitor tanda dan gejala perdarahan f. Monitor laboratorium darah rutin (hemoglobin) post hemodialisa bila perlu g. Berikan dosis antikoagulan waktu hemodialisa sesai dosis. Hiperkalemia Perawat dapat menanganai dan meminimalkan terjadinya hiperkalemia Management elektrolit a. Monitor ketidakseimbangan serum elektrolit, jika ada/tersedia b. Monitor dampak-dampak dari ketidakadekuatan/ ketidak seimbangan elektrolit c. Pertahankan patensi jalan masuk intra vena d. Berikan cairan, jika diperlukan e. Pertahankan keakuratan data intake dan out put f. Pertahankan cairan intraa vena berisi elektrolit dalam aliran tetap, jika perlu g. Berikan tambahan elektrolit (secara oral, NGT, dan IV) sesuai resep, jika diperlukan h. Konsultasikan dengahn dokter dalam pemberian pengoabtan, hemat elektrolit (ex; spironolakton), jika perlu berikan ikatan elektrolit atau penguat (ex: kogeoxalat), sesuai instruksi, jika perlu i. Dapatkan spesimen untuk analisis laborat dari level elektrolit (AGD, urin, serum) j. Monior kehilangan elektrolit kaya cairan (NGT, section, plesbotomi drainase, diare, drainage luka, dan diaporosis) k. Adakan pengukuran untuk mengontrol kehilangan lektrolit berlebihan/banyak sekali (ex: dengan istirahat usus, perubahan tipe elektrolit, pemberian antiopirektik) jika, perlukan. l. Minimalkan jumlah oral intake yang dikonsumsi oleh pasien dengan saluran gastrik yang dihubungkan dengan suction m. Berikan diet yang tepat untuk pasien , terutama keseimbangan elektrolit (kaya, potasiium, rendah sodium, rendah karbohidrat) n. Instruksikan pasien atau famili dalam modifikasi diit secara spesifik o. Berikan pengamanan lingkungan untuk pasien dengan gangguan neurologi dan neuromuscular, akibat ketidakseimbangan elektrolit p. Peningkatan orientasi q. Ajarkan pasien dan keluarga tentang tipe, penyebab dan perawatan ketidakseimbangan elektrolit r. Konsultasikan dengan dokter jika tanda dan gejala dari ketidakseimbanga elektrolit bertahan lama atau memburuk s. Monitor respon pasien untuk terapy elektrolit sesuai instruksi t. Monitor efek samping pemberian elektrolit tambahan (ex: Gastrointestinal irigasi) u. Monitor secara pasti level serum potasium pada pasien yang mendapat digitalis dan diuretika v. Berikan/pasang monitor jantung, jika perlu w. Obati/rawat aritmia jhantung, sesuai kebijakan x. Siapkan pasien untuk dialisis (ex: bantu dengan pemasangan kateter untuk dialisis). Hipoglikemia Perawat dapat menangani dan meminimalkan episode hipoglikemi Management hipo/hiperglikemi a. Pantau kadar gula darah sebelum pemberian obat hipoglikemik dan atau sebelum makan dan satu jam sebelum tidur b. Pantau tanda dan gejala hipoglikemi (kadar gula darah kurang dari 70 mg/dl, kulit dingin, lembab dan pucat, takikardi,peka terhadap rangsang, tidak sadar, tidak terkoordinasi, bingung, mudah mengantuk) c. Jika klien dapat menelan, berikans etengah gelas jus jeruk, cola atau semacam golongan jahe setiap 15 menit sampai kadar glukosa darahnya meningkat diatas 69 mg/dl d. Jika klien tidak dapat menelan, berikanglukagon hidroklorida subkutan 50 ml glukosa 50% dalam air IV sesuai protocol Asidosis Perawat mampu menangani dan meminimalkan episode asidosis Asidosis Metabolik a. Pantau tanda dan gejala asidosis metabolic 1) pernafasan cepat danlambat 2) sakit kepala 3) mual dan muntah 4) bikarbonat plasma dan pH arteri darah rendah 5) perubahan tingkah laku, mengantuk 6) kalsium serum meningkat 7) klorida serum meningkat 8) penurunan HCO3 b. Untuk klien klien dengan asidosis metabolic 1) mulai dengan penggantian cairan IV sesuai program tergantung dari penyebab dasarnya. 2) Jika etiologinya DM, rujuk pada PK: hipo/hiperglikemia 3) Kaji tanda dangejala hipokalsemia, hipokalemia, dan alkalosis setelah asidosisnya terkoreksi 4) Lakukan koreksi pada setiap gangguan ketidakseimbangan elektrolit sesuai dengan program dokter 5) Pantau nilai gas darah arteri dan pH urine. Asidosis Respiratorik a. Pantau tanda dan gejala asidosis respiratorik 1) Takikardi 2) Disritmia 3) Berkeringat 4) Mual/muntah 5) Gelisah 6) Dyspneu 7) Peningkatan usaha nafas 8) Penurunan frekuensi pernafasan 9) Peningkatan PCO2 10) Peningkatan kalsium serum 11) Penurunan natrium klorida b. Untuk klien klien dengan asidosis respiratorik 1) Perbaiki ventilasi melalui pengubahan posisi pada semifowler, latihan nafas dalam 2) Konsul kemungkinan penggunaan ventilasi mekanis 3) Berikan oksigen setelah klien dapat bernafas dengan baik 4) Tingkatkan pemberian hidrasi yang optimal Anemia Perawat dapat melakukan pencegahan untuk meminimalkan terjadinya anemia berkelanjutan Management Anemia a. Pantau tanda dan gejala anemia 1) Adanya letargi 2) Adanya kelemahan 3) Keletihan 4) Peningkatan pucat 5) Dyspneu saat melakukan aktivitas b. Monitor kadar Hb c. Kolaborasi perlunya pemberian transfuse 2.6.2 Asuhan Keperawatan Dialisi Peritoneal A. Meningkatkan kenyamanan pasien selama prosedure 1. Lakukan perawatan punggung dan massage bagoian tubuh yang tertekan , serta bantu pasien memiringkan tubuhnya . (Periode dialysis memerlukan waktu yang panjang dan pasien akan merasa lelah) . 2. Beri informasi tentang proses pelaksanaan dan hasil- hasil yang sudah dicapai kepada pasien. (Ingatkan kembali informasi tentang procedure dialysis , serta jelaskan tentang dampak yangterjadi dalamproses pelaksanaan . ( Dengan mendapat informasi ,pasien terbaru untuk mengatasi dan bekerjsama dalam menjalani procedure yang memakan waktu ini ). 3. Memberikan perawatan holistic dengan memberikan perawatan fisiologis dan psikologis di sepanjang pelaksanaan procedure dialysis . ( Memfokuskan perhatian kepada procedure dialysis bukan kepada pasien akan mengancam kesejahteraan psikologis pasien dan dapat menimbulkan kegagalan untuk mengenali problem fisiologis maupun mental. 4. Mempertahankan infus dan keluar drainase cairan dialisat miringkan tubuh pasien untuk memperlancar drainase peritoneal. ( Jika drainase terhenti / terhambat sebelum cairan dialisat mengalir keluar dalam jumlah yang cukup banyak , maka mungkin bias terjadi ujung kateter terbenam di dalam omentum). 5. Gunakan teknik aseptic yang ketat ketika melakuakn pertukaran botol cairan dialisat . (Memperkecil resiko infeksi) . 6. Lakukan pemantauan suhu tubuh setiap 4jam. (Suatu infeksi dapat terkontrol setelah dialysis di hentikan). 7. Lakukan pemantauan tekanan darah dan denyut nadi setiap 15 menit selama pertukaran pertama dan sesudah itu setiap 1 jam sekali . (Penurunan tekanan darah dapat menunjukan kehilangan cairan yang berlebihan akibat konsentrasi glukosa dalam larutan , perubahan TTV dapat mengakibatkan syok dan hidrasi berlebihan). B. Melakuan Pemantauan Perubahan pada Status Cairan dan Elektrolit, Perubahan BB, TTV, dan Asupan Masukan – Haluaran Cairan . 1. Hitung status kehilangan / pertambahan cairan pada akhir pada akhir setiap pertukaran , memeriksa balutan , mendeteksi perembesan . ( Komplikasi kehilangan cairan dalam jumlah yang berlebihan dapat terlewatkan apabila tidak dilakukan pengecekan balutan secara teliti). 1. Keseimbangan cairan kurang-lebih harus sama atau harus memperlihatkan hanya sedikit kehilangan atau penambahan cairan sesuai status cairan pasien. 2. Pastikan bahwa catatan medis spasien mencakup hal-hal berikut : a. Waktu saat setiap pertukaran dimulai dan diakhiri ; waktu memulai dan mengakhiri drainase. b. Jumlah dan jenis larutan dialisat yang diinfuskan kedalam kavum peritoneal dan yang di drainase keluar. c. Keseimbangan cairan (kumulatif). d. Jumlah pertukaran. e. Obat-obat yang ditambahkan kedalam larutan dialisat. f. Berat badan pra- dan pasca dialisis, plus berat badan setiap hari. g. Tingkat daya responsive pada saat awal, selama dan akhir terapi dialysis. h. Pengkajian tanda-tanda vital dan kondisi pasien. C. Melakukan Pemantauan Komplikasi Peritonitis 1. Lakukan observasi terhadap gejala mual, muntah, anoreksia ; rasa nyeri, nyeri tekan serta rigiditas pada abdomen ; dan hasil drainase dialisat yang keruh. 2. Mengirimkan specimen dialisat untuk pemeriksaan sel darah putih dan kultur. Rasional : peritonitis merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. Antibiotic dapat ditambahkan kedalam larutan dialisat atau diberikan secara sistemik Perdarahan 1. Lakukan observas terhadap lokasi kateter dan cairan drainase untuk mendeteksi kemungkinan perdarahan. 2. Lakukan pemantauan tanda-tanda vital. 3. Lakukan pemantauan kadar hemoglobin serum dan hematocrit. Rasional : perdarahan dengan jumlah sedikit di sekelilingi kateter yang baru saja di pasang bukan masalah yang signifikan. Selama beberapa kali pertukaran yang pertama, cairan bernoda darah dari perdarahan subkutan sering di jumpai. Heparin dengan dosis kecil dapat ditambahkan kedalam larutan dialisat yang mengalir kedalam kavum peritoneal ; penambahan heparin ini dilakukan untuk mencegah tersumbatnya kateter. Hematocrit cairan drainase dapat diperiksa untuk mengkaji intensitas perdarahan. Kesulitan pernapasan 1. Lambatkan kecepatan aliran masuk dialisat. 2. Pastikan bahwa selang tidak tertekuk dan cairan di dalamnya mengalir dengan baik. 3. Jaga udara tidak memasuki kavum peritoneal dengan cara mempertahankan agar indicator tetesan pada selang terisi cairan sebanyak tiga per empat bagian. 4. Tinggikan bagian kepala tempat tidur, dorong pasien untuk batuk dan melakukan latihan pernapasan. 5. Miringkan tubuh pasien. Rasional : - kesulitan pernapasan disebabkan oleh tekanan dari cairan dalam kavum peritoneal dan pergeseran diafragma keatas yang membuat pernapasan menjadi dangkal. - pada kesulitan pernapasan yang berat, cairan dari kavum peritoneal harus dialirkan keluar dengan segera dan dokter diberitahu Nyeri abdomen Dorong pasien untuk mobilisasi. Rasional : rasa nyeri dapat terjadi karena larutan dialisat tidak dihangatkan sampai suhu tubuh, drainase larutan dialisat tidak tuntas, iritasi kimia, iritasi oleh kateter peritonitis atau udara yang menekan difragma dan menyebabkan nyeri bahu yang beralih Perembesan 1. Ganti balutan di sekitar trocar dengan sering; lakukan perawatan ini dengan hati-hati agar kateter tidak tercabut. 2. Gunakan pelindung plastic yang steril untuk mencegah kontaminasi. Rasional : perembesan di sekeliling kateter merupakan predisposisi untuk terjadinya peritonitis Konstipasi 1. Bantu pasien untuk mobilisasi di atas tempat tidurnya. 2. Berikan makanan tinggi-serat dan cairan yang masih dalam batas diet. Rasional : inaktivitas, penurunan gizi, penggunaan senyawa pengikat fosfat dan adanya cairan dalam abdomen cenderung menyebabkan konstipasi Kadar albumin serum yang rendah 1. Lakukan pemantauan kadar protein serum 2. Lakukan pengkajian terhadap gejala edema, hipotensi dan perubahan berat badan Rasional : albumin dalam jumlah yang kecil akan hilang pada setiap pertukaran sehingga kadar albumin serum menurun. Dapat terjadi edema dengan kemungkinan disertai hipotensi 2.7 Dilema Etik Kasus gagal ginjal banyak terjadi karena pola hidup dan pola makan masyarakat Indonesia yang kurang sehat. Untuk menolong penderita gagal ginjal bisa dilakukan dengan dua cara yaitu cuci darah secara kontinu atau dengan cangkok ginjal yang tentunya menelan banyak biaya. Misalnya, untuk satu kali cuci darah menghabiskan biaya antara Rp. 500-700 ribu. Sementara dalam seminggu setidaknya harus dilakukan dua kali cuci darah. Padahal untuk penderita gagal ginjal akut proses cuci darah harus dilakukan secara terus menerus seumur hidup. Situasi Hemodialisis merupakan prosedur penyelamatan jiwa yang mahal dan akhir – akhir ini dilakukan pada lebih dari 100.000 orang Amerika. Hemodialisis memungkinkan sebagian penderita hidup mendekati keadaan yang normal meskipun menderita gagal ginjal yang tanpa terapi hemodialisis akan menyebabkan kematian. Sebagian pasien lainnya memiliki prognosis yang tidak begitu optimistik; sebagai contoh, pasien dengan kegagalan sistem organ yang multiple hanya memperpanjang proses kematiannya jika diterapi dengan hemodialisis. Dialisis merupakan prosedur medik yang mahal dalam abad dimana biaya perawatan kesehatan yang semakin teliti terus meningkat. Apakah cukup layak jika kita mempertanyakan pendistribusian terapi dialisis? Pendistribusian terapi dialisis berdasarkan daya beli pasien telah dikemukakan sebagai pilihan. Dilema Tuntutan pasien akan tindakan penyelamatan jiwa menimbulkan konflik dengan kebutuhan masyarakat untuk menyediakan dan membayar terapi yang paling efektif ini. Menurut Eka B Wahjoeni dari Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan, mayoritas pasien gagal ginjal tahap terminal dibiayai oleh pemerintah. Direktur Utama RSA UGM, Prof. dr. Arif Faisal, Sp.Rad(K) memandang bahwa persoalan tingginya biaya pengobatan penderita gagal ginjal saat ini bukan menjadi kendala lagi terutama bagi penderita dari kalangan kurang mampu. Pasalnya, dengan adanya kartu jaminan kesehatan daerah (jamkesda) sangat membantu pasien yang berasal dari keluarga kurang mampu. Ia mencontohkan, Pemkab Sleman menanggung biaya pengobatan Rp. 500.000,- per pasien gagal ginjal dari keluarga miskin , sementara RSA UGM mematok tarif sebesar Rp.500.000,- untuk satu kali cuci darah. Dengan begitu pasien tidak mengeluarkan biaya untuk cuci darah. Sementara pasien regular dengan dialiser baru hanya menambah biaya Rp. 150 ribu, sedangkan pasien dengan peralatan reuse tidak dikenakan biaya tambahan lagi, paparnya. dr. Fredie Irijanto, Ph.D., Sp.PD-KGH., dokter spesialis penyakit dalam di RSA UGM menuturkan minimnya dokter sepsialis ahli ginjal di Indonesia menjadi salah satu tantangan dalam penanganan pasien gagal ginjal . Hingga saat ini dokter sepsialis ahli ginjal Indonesia baru mencapai 90 orang. Kebanyakan dokter tersebut tersebar di kota-kota besar di Pulau Jawa, 20 persennya berada di Jakarta. Sementara di luar Jawa masih sangat sedikit, bahkan tidak ada seperti di Papua. Penanganan penderita gagal ginjal akut melalui transplantasi atau cangkok ginjal merupakan jalan yang lebih murah dibandingkan dengan cuci darah karena hanya dilakukan satu kali semumur hidup. Hanya saja, cangkok ginjal belum banyak dilakukan di Indonesia karena minimnya donor ginjal. Berbeda dengan di Australia yang pada satu negara bagiannya saja bisa melakukan cangkok ginjal 100 kali setiap tahunnya karena banyaknya donor. Di Indonesia masih terbentur dengan persoalan budaya dan aturan agama yang masih belum membolehkan melakukan cangkok organ. BAB 3 PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dialisis merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut. Proses ini bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesejahteraan pasien sampai fungsi ginjal pulih kembali. Metode terapi mencakup hemodialisis, hemofiltrasi dan peritoneal dialisis. Terdapat 2 organ yang terlibat dalam proses ini yaitu ginjal dan membran peritoneal. Pasien yang menjalani proses ini mengalami banyak perubahan dalam hidupnya. Selain beradaptasi terhadap perubahan yang ada, mereka juga melakukan beberapa aturan kesehatan yang dianjurkan oleh perawat untuk terapi dialisis ini. Diantara lain, perawatan lebih lanjut, terapi diet, dan lain sebagainya.

0 komentar:

Posting Komentar

Pages

Social Icons

Popular Posts

Social Icons

About Me

Foto Saya
1 kelas bukan berarti hanya sekumpulan orang-orang pada suatu waktu. Tapi kami adalah teman, sahabat, keluarga, belahan jiwa, yang mempunyai mimpi dan harapan yang sama mengenai masa depan kami :))

Featured Posts